. Kampanye Joko Widodo di beberapa pilkada di berbagai daerah tidak menghasilkan apa-apa. Kehadiran Jokowi di Sumatera Utara, Jawa Timur, dan belakangan di Tangerang misalnya, tidak terlalu mendongkrak perolehan suara sang kandidat.
Bagi sementara orang, ini merupakan fakta baru bahwa apa yang disebut dengan Jokowi Effect sudah memudar dan sirna. Ada juga yang menilai bahwa pamor Jokowi kian merosot seiring dengan berjalannya waktu, dan kasus di Jakarta menunjukkan bahwa Ahok ternyata lebih bisa diandalkan untuk mengatasi persoalan.
Namun hal lain juga menunjukkan sebaliknya. Berdasarkan survei beberapa lembaga yang digelar secara berkala, posisi Jokowi tetap berada di puncak elektabalitas.
Sepertinya dua fenomena ini menandakan satu hal. Pertama, kemenangan Pilkada di daerah kecil sekali keterkaitannya dengan kehadiran Jokowi. Ada banyak faktor yang melingkari pilkada di daerah, seperti kandidat yang disodorkan kepada publik dan efektifitas mesin partai.
Tanda kedua, Jokowi tidak cukup efektif mengajak publik memilih orang lain. Jokowi hanya menjadi "sinar yang berkilau" bila ia sendiri yang menjadi peserta pemilihan.
Melihat fenomena seperti ini, sepertinya PDI Perjuangan harus mulai berpikir ulang untuk kembali menghadirkan Jokowi di beberapa pilkada. Kehadiran Jokowi yang dinilai tidak berdampak apa-apa oleh sementara kalangan ini justru akan merusak citra Jokowi sendiri.
Kedua, tanpa Jokowi, PDI Perjuangan bisa mengukur diri dan mengevaluasi diri sejauh mana mesin partai itu berjalan dan efektif, terutama menghadapi Pemilu 2014. Tentu saja di saat yang sama, PDI Perjuangan juga harus mempertimbangkan figur yang disodorkan dalam Pilkada. Jangan sampai juga, gara-gara memilih figur dalam pilkada yang tidak pas sesuai dengan aspirasi kader di bawah, kapal untuk menghadapi Pemilu 2014 pecah sebelum berlayar.
Dari sisi ini, PDI Perjuangan harus kembali ke garis perjuangan partai. Jokowi tak bisa dikapitalisasi sebagai simbol PDI Perjuangan. Bagaimanapun bila ini terus dibiarkan, bisa-bisa mesin PDI Perjuangan rusak di kemudian hari.
Bagaimanapun, kekuatan utama PDI Perjuangan ada di ideologi partai sebagaimana penilaian sejumlah pengamat. Karena itu, PDI Perjuangan harus mulai mengikis personifikasi partai ke dalam sosok Jokowi, dan lebih baik kembali menonjolkan identitas partai. Yaitu identitas partai yang merawat pluralisme, memperjuangkan
wong cilik, serta bertekad membangun ekonomi yang mandiri sebagaimana seringkan diungkapkan.
Dengan identitas partai ini, PDI Perjuangan bisa menawarkan kepada publik bahwa partai ini bisa melahirkan seribu Jokowi. Namun bila selalu dan hanya Jokowi yang ditonjolkan, bisa-bisa eksistensi partai ini terpendam dalam sosok Jokowi.
[ysa]