Berita

jokowi/net

Koalisi Partai Islam dengan Isu Primordial Pun Sulit Menggeser Posisi Jokowi

KAMIS, 29 AGUSTUS 2013 | 13:38 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, ide Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk mengusung capres dari tokoh Islam tidaklah berlebihan. Namun partai Islam juga harus menyadari bahwa konstelasi politik Indonesia hari ini sudah sangat jauh berbeda.

"Kekuatan partai berbasis agama tidak lagi sekuat dulu. Eranya sudah berubah. Peta politik antara kekuatan Islam dan nasionalis hari ini sudah sangat jomplang. Lihat saja suara partai islam yang sejak Pemilu 2004 terus mengalami penurunan," kata Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahuddin, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 29/8).

Bilapun ide itu direalisasikan pasca pileg 2014 nanti, ungkap Said, sepertinya itu juga akan berat. Misalnya aja PPP, PKS, PKB, dan PBB  berkoalisi dengan memunculkan seorang Capres dari tokoh islam. Namun demikian, apakah parpol koalisi itu mampu memenuhi syarat pengajuan capres minimal 20 persen kursi DPR atau 25 persen raihan suara sah nasional Pileg 2014 atau tidak.


"Itu persoalan pertama. Persoalan kedua, soal prediksi dari PPP yang meyakini capres dari tokoh Islam mampu melampaui Jokowi. Ini yang saya ragu. Apalagi jika tokoh Islam dimaksud adalah salah satu dari ketua umum dari parpol yang berkoalisi. Elektabilitas mereka relatif rendah," ungkap Said.

Said pun mengingatkan bahwa meskipun Jokowi bukan representasi tokoh Islam, namun secara faktual Gubernur DKI Jakarta itu juga beragama islam. Apalagi tampaknya, pada Pilpres 2014 nanti pemilih akan keluar dari alasan primordial dalam memilih pemimpin. Mereka sudah malas memperdebatkan dikotomi Islam atau nasionalis. Bagi mereka, pemimpin yang bersih, jujur, memiliki rekam jejak baik, mengayomi, bersahaja, dan selalu dekat dengan rakyat, jauh lebih penting untuk dijadikan sebagai pertimbangan dalam memilih Capres.

"Sebagai perbandingan, kita bisa berkaca pada penyelenggaraan Pemilukada DKI Jakarta 2012 lalu. Karena Jakarta itu bisa kita sebut sebagai miniaturnya Indonesia. Hasilnya, Jokowi menang. Jika pemilih Jakarta yang mayoritas muslim itu mengutamakan pemimpin dari tokoh Islam, tentu bukan jokowi pemenangnya," demikian Said. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya