Berita

ilustrasi

Bisnis

Dolar Makin Perkasa, Harga Daging Bakal Meroket Lagi

SABTU, 24 AGUSTUS 2013 | 09:01 WIB

Terus melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS, akan berdampak pada meroketnya harga daging sapi di pasar. Pasalnya, importir beli daging menggunakan dolar AS.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (ASPIDI) Thomas Sembiring mengatakan, rontoknya rupiah akan berdampak pada kenaikan harga daging dipasar.

Alasannya, para importir saat ini membeli daging impor dengan dolar. Menurut dia, sebelum dolar melonjak jadi Rp 11 ribu, pihaknya membeli daging impor Rp 60 ribu per kg. Tapi, dengan dolar Rp 11 ribu, dia harus membeli daging impor Rp 64- Rp 66 ribu per kg.


Apalagi, meroketnya dolar juga menyebabkan pajak bea masuk daging impor naik. Pasalnya, kata dia, bea masuk menyesuaikan dengan nilai belinya.

“Kita kena dua kali dampak kenaikan dolar. Pertama, harga beli jadi naik. Kedua, bea masuk impor ikutan naik. Ini tentu akan berdampak pada harga jual daging,” kata Thomas kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Ditanya berapa kenaikannya, Thomas mengaku, masih menghitungnya karena nilai tukar dolar masih belum stabil. Namun, dia sedikit membocorkan kenaikannya tidak akan jauh beda dengan kenaikan harga beli impor.

Tapi, Thomas mengatakan, kenaikan itu bisa dihindari jika pemerintah mengurangi bea masuk daging. “Pengurangan itu akan sedikit menekan harga,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI) Marina Ratna mengatakan, rontoknya rupiah sangat memukul bisnis mereka. Dia bilang, gara-gara pelemahan rupiah, harga impor daging mengalami kenaikan Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per (kg).
 
Kendati berat, kata dia, importir tak bisa langsung mengurangi atau menghentikan impor. Pasalnya, importir harus mengikuti aturan main yang ditetapkan pemerintah, yakni pemasukan harus sesuai dengan waktu yang tertera dalam dokumen impor.

Karena itu, Marina berharap, pemerintah segera mengambil kebijakan untuk segera menstabilkan rupiah.

Impor Tidak Pakai Kuota Lagi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, untuk mengantisipasi lonjakan rupiah, pemerintah telah merilis empat paket kebijakan.

Salah paket kebijakan yang diambil yaitu dengan mengubah tata niaga impor daging sapi dan holtikultura dari mengandalkan skema pembatasan kuota menjadi andalkan harga. Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli dan inflasi.

“Dari sisi pemerintah untuk mengatasi inflasi yang muncul akhir-akhir ini, pemerintah akan ubah tata niaga impor daging dari mekanisme kuota menjadi andalkan harga,” terang Hatta di Jakarta, kemarin.

Thomas mengaku tidak setuju dengan rencana impor daging berdasarkan harga. Menurutnya, itu akan merugikan importir yang sudah mendapat kuota impor.

“Misalnya ada importir yang sudah dapat izin impor 100 ribu ton, tiba-tiba harga daging turun. Terus impornya dihentikan, padahal mereka baru merealisasikan 50 ribu ton. Terus sisanya itu bagaimana,” tanya Thomas.

Padahal, kata Thomas, kuota itu berlaku untuk satu tahun. Tapi, dia menegaskan, mendukung agar pasokan daging tidak sepenuhnya dari impor untuk menjaga peternak dalam negeri. “Kita dukung langkah pemerintah untuk menstabilkan harga daging diangka Rp 75 ribu per kg,” katanya.

Tapi, dia meminta agar pemerintah tidak terlalu bernafsu untuk mengurangi impor selama produksi sapi dalam negeri tidak mencukupi. Karena, hal itu justru akan membuat harga daging melonjak tajam seperti saat ini.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengklaim harga daging sapi khususnya di pasar yang ada di Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek), sudah mulai turun dikisaran Rp 80 ribu per kg.

Bahkan, Gita optimistis pada akhir tahun ini harga daging sapi bisa mencapai Rp 75 ribu per kg.

“Kami tetap menargetkan harga daging seperti tahun lalu untuk tahun ini, yaitu Rp 75 ribu per kg. Sebelum akhir tahun ini kita coba upayakan agar harga rata-rata (harga) daging sapi bisa turun ke Rp 75 ribu seperti tahun lalu,” harap Gita. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Matador Pulangkan Belgia di Menit Akhir

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:14

Pengadaan Batu Bara Belum Tentu Penyebab Blackout Sumatera

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:05

Ijazah Asli Jokowi Dipastikan Sama seperti Unggahan Dian Sandi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:45

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Jampidsus Febrie Resmi Mundur

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:23

Antara VAR dan Tuduhan Argentina Anak Emas FIFA

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:02

Pemerintah Dukung Kortastipidkor Usut Tuntas Perkara Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:35

Pernyataan Febrie Dinilai Upaya Kendalikan Narasi di Tengah Deretan Fakta

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:33

Demo Copot Jampidsus Febrie

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:24

Akademisi University Swedia Teliti Penanggulangan Bencana PMI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:11

Selengkapnya