Berita

Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati/net

Politik

Mengusut Otak dan Motif Penembakan Polisi Tidak Bisa Sim-Salabim!

JUMAT, 23 AGUSTUS 2013 | 08:56 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Bagi sementara kalangan, pengusutan kasus penembakan anggota polisi yang terjadi dalam tiga bulan terakhir ini seperti jalan di tempat. Bagaimana tidak, jangankan mengungkap otak dan motif di balik penembakan, hingga kini polisi belum juga menangkap si pelaku penembakan.

Namun tidak demikian dengan anggota Komisi I dari Fraksi Hanura, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati. Bagi Susaningtyas, mengungkap kasus ini memang butuh waktu dan tidak bisa seperti main sim-salabim. Sebab butuh waktu dalam mengumpulkan bahan keterangan sebagai dasar analisa untuk laporan A1 kepada Kapolri.

"Justru aneh berbagai pernyataan yang gegabah mengatakan itu dipastikan jaringan lama atau baru," ujar Susaningtyas kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 21/8).


Menurut Nuning, begitu Susaningtyas akrab disapa, bisa saja pelaku penembakan adalah jaringan terorisme dari sel terputus. Atau bahkan bisa juga pelaku penembakan punya motif lain.

"Ini kan perlu hasil labfor juga. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), hanya awal dari pembuktian. Tentu juga perlu analisa dari hasil olah TKP yang telah dilakukan," jelas Nuning, yang juga pakar bidang intelijen, sambil mengatakan bahwa polisi memang harus membuka semua motif pelaku dibaliknya.

Maka atas dasar itulah Nuning berharap jangan sampai justru proses pengembangannya terjebak pada satu sudut saja. Ini penting, agar siapa pelakunya secara akurat bisa ditangkap.

"Saya juga menghimbau agar Satuan tugas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tidak grasak-grusuk apalagi kasar hingga melanggar HAM orang yang tak bersalah," tegas Nuning, sambil menyarankan agar intel polri juga menelusuri jaringan kelompok senjata api di Indonesia ini dengan Operasi Kontra Terror dan bukan Operasi Anti Terror. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya