Berita

fadli zon/net

Politik

Fadli Zon: Rupiah Semakin Terpuruk Pemerintah Jangan Malas

JUMAT, 23 AGUSTUS 2013 | 06:57 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Kondisi nilai tukar rupiah semakin melemah. Setelah bertahan di angka 10.000 rupiah per dollar Amerika selama beberapa hari, kini bahkan telah menembus 11.000 rupiah.

Partai Gerindra memandang bahwa akar krisis karena kelangkaan dollar. Mengapa dollar langka? Pertama, karena defisit neraca pembayaran yang disebabkan membengkaknya impor bahan baku dan barang modal. Kedua, adalah jatuh tempo utang swasta dalam denominasi dollar, dimana kita membutuhkan dollar banyak.

"Total utang pemerintah Indonesia hingga Juli 2013 mencapai Rp 2.102,56 triliun juga bukti lain kegagalan kelola perekonomian negara," ujar Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/8).


Menurutnya, kondisi ini jelas mengakibatkan kebutuhan dollar yang sangat tinggi. Namun ironisnya Indonesia belum punya aturan yang dapat memaksa dollar hasil ekspor harus kembali mengendap dulu di dalam negeri untuk periode tertentu. Akibatnya seperti ini.Tapi sayangnya, pemangku kewenangan tak mau membuat langkah nyata dengan alasan takut dianggap melanggar devisa bebas.

"Padahal, negara di kawasan sudah menerapkan aturan tersebut. Di sisi lain, Pemerintah nampak salah perhitungan dengan menyatakan bahwa efek dari krisis ini pencapaian pertumbuhan 6.3 persen susah dicapai," ungkap Fadli.

Selain itu, pemerintah juga seperti berlepas tangan dengan menempatkan penyebab pada kebijakan moneter AS yang berubah. Sementara enggan koreksi diri.

"Pemerintah jangan malas bertindak dan harus sadar, bahwa paham ekonomi neolib saat ini, hanya akan membuat perekonomian Indonesia menjadi penuh resiko," tekannya.

Krisis saat ini sambung Fadli, menunjukkan bahwa sistem dan kinerja ekonomi pemerintah gagal. Solusi strategis harus mulai dijalankan, yakni penerapan ekonomi kerakyatan sesuai konstitusi. Tak seperti saat ini yang terlalu bebas, akhirnya ekonomi Indonesia salah urus dan selalu rawan terhadap krisis. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Ironi, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Kasus Narkoba

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:14

SOKSI Bangkitkan Program P2KB, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Golkar

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:55

Konsultasi Bilateral di Moskow, RI-Rusia Soroti Konflik Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:50

Proyek Coretax DJP Digugat Buntut Aroma Monopoli

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:47

Masalah Etik dan Suap, Menteri PU Panggil Pulang ASN dari Luar Negeri

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:33

Ini Tips Menghitung Komponen Pembayaran Listrik

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:02

Nakba dan Perubahan Politik Regional di Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:57

Mantan Kepala Bakamla Ingatkan Kesiapan Finansial Negara Memodernisasi Alutsista

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:37

Menko Airlangga Bertemu PM Belarus, Ini yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36

Pakar: Ibu Kota Negara RI di Jakarta Konstitusional

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:09

Selengkapnya