. Tujuh industri kakao nasional mengalami mati suri setelah pemberlakuan bea keluar biji kakao pada awal 2011 lalu. Akibat kebijakan ini, hanya industri saja yang mampu meningkatkan produksinya.
Setelah kebijakan ini, PT Berdikari, yang awalnya hanya melakukan trading Biji Kakao yang ditanam di Makasar, Kolaka dan Padang juga akhirnya mengalami kendala
"Pada saat pemerintahan memberlakukan pengenaan bea keluar atas ekspor biji kakao yang diberlakukan 1 April 2010 lalu, menyebabkan harga biji kakao sudah sangat tidak kompetitif lagi, sehingga inilah yang mendorong kami pada oktober 2012 untuk merambah kepada produksi kakao setengah jadi," kata Direktur Keuangan PT Berdikari, Siti Marwah.
Dengan terjunnya PT Berdikari dalam industri pengolahan biji kakao, ternyata berhasil menghidupkan kembali beberapa pabrik pengolahan biji kokoa terbesar di Indonesia yang sempat mati suri. "Pesatnya peminat Produksi setengah jadi kokoa yang dihasilkan PT. Berdikari, membuat kami dapat meluaskan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan swasta di Indoneisa," ujar Marwah.
Sebagai BUMN yang bisa dikatakan baru menangani komoditi Kakao ini, Biji kakao yang diolah menjadi Liquor, Cocoa Butter dan cocoa Powder oleh PT Berdikari ini telah mencapai ekspor yang cukup signifikan, sekitar 160 ton atau 8 kontainer tiap minggunya. Sementara pasar international yang meminati kakao setengah jadi hasil produksi PT. Berdikari antara lain Singapura, Malaysia, London, Belanda dan Spanyol.
Beberapa waktu yang lalu Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Sindra Wijaya sempat menyebutkan jika kapasitas industri pengolahan kakao dan produksi yang cenderung stagnan tidak ditingkatkan dan tidak ada yang memicu minat petani kakao untuk tetap menanam kakao dapat menyebabkan Indonesia akan menjadi negara importir kakao pada 2015.
Oleh karenanya Marwah menyebutkan walaupun PT Berdikari baru terjun dalam industri pengolahan biji kakao ini, namun melihat minat pasar yang tinggi pada hasil pengolahan biji kakao PT Berdikari, dirinya optimis dapat meningkatkan memenuhi kebutuhan kapasitas industri pengolahan kakao ke depannya dengan hasil pengolahan kakao yang berstandar internasional. Dengan kualitas kakao yang baik, diharapkan dapat melindungi konsumen dari kakao berkualitas buruk sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
"Mutu kakao yang baik akan memperbaiki harga dan meningkatkan devisa negara sehingga petani pun semakin bersemangat untuk menanam kakao," ujarnya.
[ysa]