. Dalam beberapa kesempatan, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Dradjad H Wibowo, menolak diwawancara terkait dengan persoalan ekonomi Indonesia, termasuk soal nilai tukar rupiah yang anjlok.
Terakhir, ketika Rakyat Merdeka Online bertanya soal target pertumbuhan ekonomi hingga 6,4 persen sebagaimana tertuang dalam RAPBN, Dradjad juga tak mau berkomentar. Dradjad, yang meraih gelar master of science di bidang ekonomi serta doktor economathematic dari University of Queensland, memang punya otoritas untuk bicara soal ini, ketika ada pihak yang menganggap target pertumbuhan ekonomi hingga 6,4 persen itu tidak rasional. Namun sekali lagi, Dradjad menolak berkomentar.
Tapi sekarang, Dradjad mulai angkat suara dan kembali mengkritik pemerintahan SBY. Hal ini terkait dengan sikap percaya diri pemerintah yang merasa jago mengatasi krisis sebagaimana tahun 2008. Padahal saat itu, Indonesia tertolong oleh harga komoditas ekspor. Namun kini, harga ekspor anjlok.
Senin kemarin (19/8), nilai rupiah anjlok lebih cepat dari perkiraan pelaku pasar. Per hari kemarin, rupiah sudah turun 9,4 persen
year on year menjadi di atas 10.500. Bersama dengan anjloknya rupiah, Jakarta Composite Indeks juga anjlok 5,6 persen. Bahkan nilai perdagangannya pun mencapai Rp 6,7 triliun, melebihi nilai rata-rata tahun ini.
Dradjad pun berkesimpulan, pasar sedang menghukum SBY dan pemerintahannya. Pasar menghukum SBY dan pemerintahnnya terutama karena tiga hal. Pertama, RAPBN 2014 divonis sebagai bukti bahwa pemerintah telah
out of touch sehingga pasar menilai target pertumbuhan 6,4 persen bukan hanya tidak realistis tapi juga dinilai sebagai guyonan. Kedua, pasar menghukum SBY karena pemerintah dinilai terlalu menganggap enteng persoalan
trade deficit dan utang swasta yang jatuh tempo. Ketiga, BI dianggap terlalu dipaksa mempertahankan rupiah di luar kemampuannya.
"Saya harus bicara apa adanya demi manfaat yang lebih besar daripada sekedar menjaga etika koalisi sebagai Waketum partai anggota koalisi," kata Dradjad beberapa saat lalu (Selasa, 20/8).
Dradjad merasa harus berbicara karena bila pemerintah dibiarkan tetap saja rakyat yang menjadi korban. Bila rupiah anjlok terus maka harga sembako dan komponen lain yang semuanya impor akan naik terus juga. Begitu pun dengan bursa saham.
"Memangnya para pekerja tidak terkena kalau perusahaan-perusahaan yang go public itu anjlok harganya?
Debt to equity ratio meraka melonjak drastis, akibatnya pasti akan ada penghematan dan lain-lain. Supplier meraka juga akan terkena. Terus, banyak pengusaha menengah yang menyimpan aset di saham, kalau mereka terkena, apa pegawainya tidak ikut-ikut jadi korban? Apalagi kalau nanti merembet ke properti, padahal sekarang harga properti sudah sangat kemahalan. Ujung-ujungnya rakyat yang kena," jelas Dradjad, yang selama ini dikenal sebagai ekonom yang pro-rakyat.
"Lalu soal obligasi pemerintah. Karena
yield-nya naik terus, kan artinya obligasi baru dari negara tambah mahal. APBN makin terbebani. Jadi karena hal-hal di atas, mumpung belum meledak menjadi krisis, terpaksa saya ngomong apa adanya. Taruhannya terlalu mahal, dibanding sekedar menjaga etika sebagai mitra koalisi," sambung Dradjad.
Dradjad pun akhirnya menyarankan kepada Presiden SBY dan para menteri untuk berhenti menganggap enteng masalah stabilitas makro yang sedang dihadapi. Dradjad juga mempersilakan Forum Stabilasasi Sistem Keuangan (FSKK), yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), untuk menggelar rapat. Namun yang lebih penting adalah kebijakan yang efektif untuk segera menangani masalah
trade deficit dan utang swasta.
Dradjad menyarankan agar RAPBN 2014 dirombak total supaya lebih sesuai dengan realitas, dan bukan mimpi apalagi halusinasi menjelang Pemilu. Sementara APBN 2013 harus segera disesuaikan dengan kemampuan penerimaan pajak yang banyak merosot tahun ini. Sebab pelaku pasar akan lebih menghargai langkah yang efektif yang sesuai realitas.
"Mudah-mudahan kritik keras ini bisa menjadi
wake up call meski sudah agak terlambat," demikian Drajad.
[ysa]