Berita

ilustrasi/net

Pemerintah Harus Urus pulau-pulau Kecil yang Bertaburan dari Sabang Sampai Merauke

SELASA, 13 AGUSTUS 2013 | 10:55 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau. Dan di antara ribuan pulau itu, 75 persennya adalah pulau-pulau kecil yang bertaburan dari Sabang sampai Merauke.

"Keberadaan pulau-pulau kecil itu tentu secara kewilayahan maupun fungsinya  memiliki nilai strategis bagi NKRI," kata Pembina Indonesia Maritime institute (IMI),  Prof Dietriech Bengen, dalam keterangan beberapa saat lalu (Senin, 12/8).

Di samping itu, kata Dietriech Bengen, karakteristik ekosistem pulau-pulau kecil juga spesifik. Dan bahkan, bila berbicara kekayaan sumber daya alam (SDA) hayati laut, itu tidak terlepas dari keberadaan pulau-pulau kecil.


Dengan kondisi tersebut,  kata Dietriech yang juga guru besar Ilmu Kelautan IPB dan juga pakar pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, sudah selayaknya pemerintah memberi perhatian yang serius terhadap keberadaan pulau-pulau kecil ini, dan membuat sebuah grand strategi pengelolaan dan pendayagunaannya.

"Jika kita melihat beberapa negara kepulauan di dunia, mereka begitu konsen memanfaatkan pulau-pulau kecil mereka menjadi sumber ekonominya, seperti misalnya Maldive, negara kepulauan yang mampu mandiri karena pemanfaatan pulau kecil mereka sebagai sumber ekonomi utama, apakah sebagai wisata bahari maupun perikanan lainnya," tegas Dietriech

Sementara itu, Direktur Eksekutif IMI, Dr. Y. Paonganan, menambahkan bahwa peran strategis pulau-pulau kecil di NKRI juga terlihat di batas maritim NKRI dengan negara tetangga. Tercatat, ada 92 pulau-pulau kecil terluar yang menjadi dasar penentuan tapal batas NKRI dengan negara lain.

"Hal ini perlu penanganan secara serius, baik dari aspek kewilayahan maupun fungsinya sebagai beranda depan NKRI," ujar Paonganan.

Pulau kecil terluar, lanjut Ongen, biasa Paonganan disapa, apalagi yang berpenduduk ada sebanyak 32 buah dari 92 itu, tentu butuh perlakukan yang lebih serius bukan saja aspek sosial, budaya, ekonomi, politik dan pertahanan tapi juga dari aspek ekologis, karena pulau-pulau tersebut rentan terhadap kerusakan.

"Dan kalau salah satu saja hilang karena abrasi misalnya, maka bisa dibayangkan berapa luas wilayah RI yang juga akan hilang," tutup Paonganan. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Ironi, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Kasus Narkoba

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:14

SOKSI Bangkitkan Program P2KB, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Golkar

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:55

Konsultasi Bilateral di Moskow, RI-Rusia Soroti Konflik Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:50

Proyek Coretax DJP Digugat Buntut Aroma Monopoli

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:47

Masalah Etik dan Suap, Menteri PU Panggil Pulang ASN dari Luar Negeri

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:33

Ini Tips Menghitung Komponen Pembayaran Listrik

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:02

Nakba dan Perubahan Politik Regional di Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:57

Mantan Kepala Bakamla Ingatkan Kesiapan Finansial Negara Memodernisasi Alutsista

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:37

Menko Airlangga Bertemu PM Belarus, Ini yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36

Pakar: Ibu Kota Negara RI di Jakarta Konstitusional

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:09

Selengkapnya