Berita

foto: net

RENUNGAN IDUL FITRI

Hidup Untuk Mudik

KAMIS, 08 AGUSTUS 2013 | 13:12 WIB | OLEH: SALEH PARTAONAN DAULAY

PERASAAN suka cita dan bahagia menghiasi hampir semua raut muka para jama'ah sholat 'ied di pagi hari ini. Semua bergegas menuju lapangan tempat sholat dilaksanakan. Satu per satu menyusun shaf rapi dan teratur. Begitu duduk, secara serentak mereka ikut mengumandangkan lantunan takbir mengikuti jamaah lain yang sudah terlebih dahulu tiba.

Takbir, tahmid, dan tahlil yang dikumandangkan sangat menggugah dan menggetarkan hati. Sepintas, saya lalu teringat dengan kejadian dua minggu lalu. Ketika itu, saya sempat berdialog ringan dengan sopir teman saya. Katanya, ia akan mudik bersama isteri dan anaknya ke Solo, Jawa Tengah, dua hari sebelum lebaran.

Menurut penuturannya, ia telah tinggal di Jakarta sejak tahun 1993. Sejak itu, secara rutin ia selalu mudik. Bahkan setelah menikah di tahun 2000, ia belum pernah merayakan lebaran di Jakarta. Biasanya, ia mudik bersama isteri dan anak semata wayangnya yang sekarang berumur 11 tahun.


Yang membuat saya kagum, ia selalu mudik mengenderai sepeda motor dengan membonceng isteri dan anaknya. Jarak kurang lebih 512 km Jakarta-Solo, sudah puluhan kali dilaluinya. Walau tahu banyak resiko, ia tidak pernah gentar. Yang penting, mudik ke kampung halaman.

Ia juga menjelaskan bahwa ia selalu menyisihkan minimal 200 ribu rupiah setiap bulan. Uang itu, memang sengaja disisihkan untuk persiapan mudik. Dengan modal itu, ia bisa bertemu dengan sanak, kaum kerabat, dan teman di kampung halamannya.

Menurutnya, selain untuk memohon maaf pada orang tua dan orang-orang lainnya, mudik juga menjadi simbol 'keberhasilan' seorang perantau. Mereka yang berhasil adalah mereka yang bisa mudik. Karena itu, mudik menjadi lambang eksistensi dalam pergaulan sosial.

Mudik Hakiki


Sebetulnya, banyak hal yang bisa direfleksikan dari penuturan lugu, lugas, dan apa adanya dari sopir itu. Setidaknya, kesadaran akan pentingnya mudik selalu membuatnya semangat untuk bekerja. Rutinitas yang dilakukannya sehari-hari, tidak pernah membuatnya lupa bahwa pada suatu hari nanti dia akan mudik ke kampung halaman.

Kesadaran seperti ini, perlu ditanamkan bagi semua orang. Namun, kesadaran yang ditanamkan bukanlah mudik 'duniawi', tetapi kesadaran mudik 'hakiki'. Mudik hakiki adalah suatu keniscayaan di mana setiap orang akan pulang dan kembali kepada Tuhannya.

Sayangnya, mudik hakiki ini jarang diingat. Karenanya, tidak banyak orang yang memiliki persiapan untuk menghadapinya. Padahal, mudik ini jauh lebih sulit. Masing-masing orang mengurus diri sendiri. Tidak ada yang bisa menolong dan dimintai pertolongan.

Kesadaran mudik hakiki menjadi penting karena bisa membangun karakter positif seseorang. Orang yang memiliki kesadaran mudik hakiki diyakini tidak akan mau berbuat dosa dan kesalahan. Paling tidak, ia akan berusaha untuk memberi manfaat bagi semua orang.

Dengan memahami mudik hakiki, orientasi hidup menjadi terarah. Terarah pada satu tujuan yaitu pada upaya pencarian makna hidup. Dengan demikian, apa pun rutinitas yang dilakukan selama masa penantian menunggu datangnya waktu mudik, tidak akan pernah membuat diri menjadi lupa daratan. Yang selalu diingat hanyalah bahwa suatu waktu nanti mudik pasti datang dan semua hal akan ditinggalkan.

Salah satu hal yang perlu direnungkan adalah bahwa keberhasilan hidup seorang 'perantau' di alam fana ini bukan diukur oleh banyaknya penghasilan, tingginya jabatan, dan besarnya kekuasaan. Keberhasilan hidup justru ditentukan oleh seberapa banyak kebaikan dan manfaat yang diberikan kepada orang lain. Pada titik ini, mereka yang menebar kebaikan dan manfaatlah yang bisa dikategorikan sebagai manusia yang fitri.

Karenanya, tidak salah bila kemudian dinyatakan bahwa mereka layak merayakan idul fitri sepanjang tahun.

Penulis adalah Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Intervensi Prabowo soal Kabinet Jelang Pelantikan Presiden

Jumat, 03 Juli 2026 | 06:13

Sehina-hinanya, Serendah-rendahnya

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:48

Rezim Baru dan Kelahiran Organisasi Pemuda Paramiliter

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:41

Satu Polisi Tewas Dibacok saat Gerebek Bandar Sabu di Katingan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:18

Jokowi Kecewa Berat Roy Suryo-Dokter Tifa Tak Ditahan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:15

Jokowi Tidak Rela Kehilangan Kekuasaan

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:26

Spanyol Lolos ke 16 Besar setelah Gasak Austria 3-0

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:12

Raja Juli Antoni Dituntut Terbuka soal Kasus Bupati Kuansing

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:03

Flyover Latumenten Bisa Kurangi Kemacetan 40 Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:30

Sangat Aneh Kejaksaan Belum Periksa Jokowi

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:17

Selengkapnya