Berita

effendi simbolon/net

Politisi PDI Perjuangan Mau Presiden Mendatang Tak Lahir karena Persepsi dan Citra Belaka

JUMAT, 02 AGUSTUS 2013 | 06:27 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Negara Indonesia merupakan negara yang besar, yang diperjuangkan oleh para pahlawan dengan berdarah-darah.

Karena itu, ke depan, Indonesia harus benar-benar dipimpin oleh sosok yang mementingkan kepentingan nasional, dan bukan pemimpin yang lahir dari pencitraan belaka.

"Kita tak mau dipimpin lagi oleh pemimpin yang semusim, yang hanya lahir dari pencitraan yang dibuat-buat dan dibikin-bikin," kata politisi PDI Perjuangan, Effendi Simbolon, saat berbincang di kawasan Jakarta Pusat, Kamis malam (1/8).


Effendi gelisah bila pemimpin Indonesia hasil Pilpres 2014 cuma mengulang pemimpin sebelumnya yang merupakan hasil dari rekayasa citra. Lebih mengkhawatirkan lagi bila sosok yang kemudian populer karena rekayasa citra itu merupakan produk dari industrialisasi politik.

Industrialisasi politik, lanjtnya, meniscayakan hadirnya pemimpin hasil bisnis politik. Dalam arti kata, ada pemodal yang membiayai sang tokoh agar terus populer. Tentu saja akan lebih membahayakan bila ternyata ada pemodal yang membiayai pencitarannya itu. Sebab akhirnya sosok tersebut akan tunduk pada sang cukong, dan tidak lagi peduli pada kepentingan nasional.

Effendi menyadari betul, politik merupakan persoalan citra dan persespsi. Namun ia mengajak publik untuk menganalisa dengan tajam dan benar-benar memilih pemimpin yang pantas dan memang layak menakhodai negara besar ini. Pemimpin yang lahir juga haruslah pemimpin yang lahir dari keinginan rakyat secara murni dan bukan akibat dari proses pencitraan yang terus diskenariokan.

"Kita harus mencermati fenomena itu, ini tugas kita semua. Kita berdoa kepada Tuhan, semoga Indonesia diberikan presiden bukan karena persepsi," demikian Effendi. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Ironi, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Kasus Narkoba

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:14

SOKSI Bangkitkan Program P2KB, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Golkar

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:55

Konsultasi Bilateral di Moskow, RI-Rusia Soroti Konflik Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:50

Proyek Coretax DJP Digugat Buntut Aroma Monopoli

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:47

Masalah Etik dan Suap, Menteri PU Panggil Pulang ASN dari Luar Negeri

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:33

Ini Tips Menghitung Komponen Pembayaran Listrik

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:02

Nakba dan Perubahan Politik Regional di Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:57

Mantan Kepala Bakamla Ingatkan Kesiapan Finansial Negara Memodernisasi Alutsista

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:37

Menko Airlangga Bertemu PM Belarus, Ini yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36

Pakar: Ibu Kota Negara RI di Jakarta Konstitusional

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:09

Selengkapnya