Berita

adang ruchiatna/net

Adang Ruchiatna Jelaskan UU Ormas pada Perwakilan Australia

KAMIS, 01 AGUSTUS 2013 | 08:05 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Sosialisasi UU Ormas yang dilakukan pemerintah mendapat perhatian serius dari pemerintah Australia. Keinginantahuan Australia terhadap UU Ormas tersebut didasari karena setiap kali rapat pembahasan UU tersebut selalu di warnai dengan demonstarsi.
 
"UU Ormas ini dibutuhkan, mengingat ormas yang ada di kita ini terlalu banyak dan bertaburan, sehingga UU ini berfungsi untuk mengontrol setiap kegiatan ormas maupun dana dari pihak asing," kata anggota DPR Komisi VIII, Adang Ruchiatna dalam pertemuan dengan perwakilan Australia, Profesor Lee Wilson dari University of Queensland, di Gedung DPR, Rabu kemarin (31/7).
 
Menurut Adang, dana tersebut perlu dikontrol karena ada kekhawatiran dana asing itu diperuntukan untuk kegiatan yang tidak benar. "Kami khawatir dana dari pihak asing itu diperuntukan untuk kegiatan terorisme, tentu ini perlu kontrol," bebernya.
 

 
Adang yang juga calon anggota DPR RI dari Dapil DKI I, Jakarta Timur menegaskan bahwa UU di Indonesia ini terlalu banyak. Hampir semua hal dibuat UU. Padahal harusnya, cukup satu UU yang bisa mengcover semuanya.

"Kita sudah cek ke semua negara, tidak semua di Negara luar itu apa-apa dibuat UU, cukup satu UU tapi semua ada disitu," tandasnya.
 
Dihadapan Lee, Adang juga menegaskan bahwa Indonesia kini tengah dalam proses memajukan demokrasi, pasca lengsernya orde baru semua serba kebablasan. "Reformasi saat ini sudah salah jalan, termasuk korupsi semakin merajalela. Tapi saya yakin ini hanya sebuah proses," beber caleg nomer urut 2 ini.
 
Mantan Pangdam IX Udayana ini juga meminta kepada seluruh tokoh-tokoh Indonesia untuk memperbaiki kondisi bangsa. Sudah saatnya, mereka berkumpul merumuskan bangsa ini ke depan, jangan kemudian melihat ke belakang dan saling menyalahkan, tapi rakyat tidak diperhatikan.

"Semua sibuk dengan hasrat politiknya, tidak ada lagi yang peduli dengan kondisi rakyatnya. Mereka malah berlomba-lomba ingin menjadi capres. Sementara tugas pokonya ditinggalkan," demikian Adang. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Ironi, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Kasus Narkoba

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:14

SOKSI Bangkitkan Program P2KB, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Golkar

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:55

Konsultasi Bilateral di Moskow, RI-Rusia Soroti Konflik Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:50

Proyek Coretax DJP Digugat Buntut Aroma Monopoli

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:47

Masalah Etik dan Suap, Menteri PU Panggil Pulang ASN dari Luar Negeri

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:33

Ini Tips Menghitung Komponen Pembayaran Listrik

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:02

Nakba dan Perubahan Politik Regional di Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:57

Mantan Kepala Bakamla Ingatkan Kesiapan Finansial Negara Memodernisasi Alutsista

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:37

Menko Airlangga Bertemu PM Belarus, Ini yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36

Pakar: Ibu Kota Negara RI di Jakarta Konstitusional

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:09

Selengkapnya