Berita

Anas Urbaningrum

Wawancara

WAWANCARA

Anas Urbaningrum: Saya Berharap Antasari Dapat Keadilan Dari Kesaksian Ini

SABTU, 15 JUNI 2013 | 08:15 WIB

Bekas Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum berharap kesaksiannya di pengadilan bisa mendapatkan keadilan bagi bekas Ketua KPK Antasari Azhar. 

Menurut Anas, Antasari Azhar dizalimi dalam kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasruddin Zulkarnaen.

“Saya bersimpati dengan Pak Antasari yang sedang mencari keadilan. Saya melihat Pak Antasari sedang menerima musibah dan dizalimi. Mudah-mudahan, apa yang saya sampaikan ada gunanya,” tutur Anas kepada Rakyat Merdeka, Kamis (13/6).


Seperti diketahui, Antasari Azhar menggugat Mabes Polri setelah tidak jelasnya kasus yang dilaporkannya, yakni layanan pesan singkat (SMS) bernada ancaman kepada Nasruddin Zulkarnaen, yang ditangani Badan Reserse Kriminal Polri. SMS itulah yang menjadi dasar hukum mengapa Antasari dinilai terlibat dalam pembunuhan Nasruddin. Antasari pun divonis 18 tahun penjara atas perkara pembunuhan berencana.

Anas Urbaningrum selanjutnya mengatakan, yang disampaikannya di pengadilan itu ada relevansinya dalam kasus itu. 

Berikut kutipan selengkapnya:

Anda bilang Antasari dizalimi, seperti apa itu?
Saya tidak tepat menjelaskan masalah tersebut. Ada beberapa, saya ikuti, tentu secara teknis saya tidak pas menjelaskan. Tapi, itu yang saya nilai, itu yang saya rasakan.

Hadir sebagai saksi atas inisiatif sendiri atau diminta?
Saya hadir karena diminta untuk hadir untuk menjadi saksi oleh lawyer-nya Pak Antasari. Tentu saja ini sudah mendapat persetujuan Pak Antasari. Saya datang ke sini (pengadilan), karena bersimpati atas perjuangan Pak Antasari dalam mencari keadilan.

Anda diminta sebagai saksi karena dianggap dekat dengan Nasruddin Zulkarnaen, apa betul?
Dibilang dekat tidak, dibilang tidak, ya dekat. Jadi kenal baiklah.

Kenal dengan Nasruddin sudah lama?
Saya kenal Nasruddin dua tahun sebelum peristiwa penembakan itu. Waktu itu saya sedang mengikuti sebuah seminar. Almarhum mendatangi saya dan mengenalkan diri.

Apakah setelah pertemuan tersebut Anda terus berkomunikasi dengan Nasruddin?
Tidak. Setelah pertemuan itu komunikasi kita nggak intens juga. Cuma kalau sudah kenal kan, hubungan baiklah kira-kira seperti itu. Kami kadang ketemu di suatu acara atau sekadar ngopi bareng. Tidak pernah bertemu untuk organisasi atau bisnis.

Setelah seminar, Anda pernah bertemu lagi dengan Nasruddin?
Pernah. Kami bertemu di sebuah factory outlet di Kota Bandung. Kami bertemu hanya berdua. Saya dalam rangka liburan, tapi saya tidak tahu Nasruddin dalam rangka apa ke Bandung.

Saat pertemuan tersebut bagaimana situasinya?
Biasa saja. Kami hanya ngobrol ngalor-ngidul cerita biasa saja. Tidak ada pembicaraan khusus karena bukan pertemuan khusus. Saya ke Bandung itu kan niatnya liburan. Kalau di Bandung Anda pasti rileks, senang kan.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kita janjian mau ketemu lagi di Jakarta untuk ngopi-ngopi. Tapi tidak kesampaian, kan keburu pak Nasruddin kena musibah itu.

Kapan Anda bertemu di Bandung dengan almarhum?
Pertemuan itu kalau tidak keliru dua hari sebelum diberitakan meninggal. Saya tidak hapal persis tanggalnya berapa.

Bagaimana kondisi Nasruddin saat itu?
Biasa saja. Saya tidak melihat kesan seperti sedang terancam. Saat itu kami ngobrol santai sambil berdiri sekitar 5-7 menit. Saya pun tidak melihat adanya pengawalan khusus, kami hanya berdua kala itu.

Apa Nasruddin pernah bercerita tentang masalah dengan Antasari?
Tidak pernah. Saya dan dia (Nasruddin-red) hanya berhubungan baik. Jadi tidak terlalu dekat, dan saya tidak heran kalau dia tidak bercerita secara khusus.

Apa harapan Anda?
Saya berharap kesaksian ini dapat membantu pak Antasari untuk mendapatkan keadilan. Saya sudah sampaikan apa yang saya tahu dan alami waktu itu. Relevansinya sejauh mana tergantung hakimnya. Tapi saya yakin, yang saya alami waktu itu dianggap relevan oleh Pak Antasari.  [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya