Berita

M Nuh

Wawancara

WAWANCARA

M Nuh: Uang Muka Calon Mahasiswa Masuk PTS Seharusnya Dibalikin Bila Diterima PTN

SABTU, 25 MEI 2013 | 10:11 WIB

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyesalkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melakukan komersialisasi dengan calon mahasiswa.

“Seharusnya PTS tidak boleh menghanguskan deposit atau uang muka untuk pembayaran kuliah bila calon mahasiswanya mengundurkan diri karena mendapat di PTN,’’ujar Mendikbud M Nuh kepada Rakyat Merdeka, Kamis (23/5).

PTS seperti ini, lanjut M Nuh, akan diberi sanksi tegas. Caranya,  Kemendiknas akan mempersulit  dalam pemberian akreditasi atau hibah.


“PTS jangan mempersulit siswa dan orangtua siswa. Uang muka calon mahasiswa masuk PT seharusnya dibalikin bila diterima di PTN,’’paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

PTS membuka pendaftaran calon mahasiswa jauh sebelum UN tingkat SMU dilakukan, tanggapan Anda?
Tidak apa-apa. Itu kan kebijakan mereka sebagai pihak swasta. Kalau tidak membuka pendaftran lebih awal akan kalah bersaing dengan Universitas Negeri. Pembukaan lebih awal seperti itu kan  supaya calon mahasiswa berlomba-lomba untuk mendaftar.

Kalau di negeri kan tidak seperti itu pun pasti banyak yang daftar.

Soal uang muka itu, bagaimana?
Ya, tidak apa-apa juga. Sah-sah saja saya kira apabila ada uang muka di luar uang admnistrasi diberikan saat di awal diterima sebagai calon mahasiswa. Itu kan untuk mengikat calon mahasiswanya.

Meski uang tersebut hangus bila calon mahasiswanya mengundurkan diri karena diterima di PTN?
Nah, ini yang tidak boleh. Seharusnya PTS tidak boleh menghanguskan deposit calon mahasiswanya bila diterima di PTN. Kalau perusahaan komersil, silakan. Tapi ini kan pendidikan, bukan untuk dikomersialisasi.

Saya sangat menyesalkan terjadinya praktek seperti ini. Yang dipotong seharusnya uang administrasi saja.

Apakah Kemendikbud sudah memberikan perintah untuk melarang praktek semacam ini?
Kami sering berdiskusi dengan  berbagai PTS, supaya praktek semacam ini jangan dilakukan. Tapi ya, tetap saja terjadi lagi. Kami tidak bisa melarang mereka.

Kenapa?
Karena mereka kan swasta. Mereka punya kebijakan sendiri. Kami tidak bisa secara tegas mengatur swasta.

Apa yang bisa Kemendikbud lakukan?
Paling Kemendikbud hanya memberikan himbauan supaya praktek semacam ini dihentikan. Kami terus berupaya mensosialisasikan masalah ini kepada mereka. Kami yakin kok, ke depan mereka pasti akan mematuhi himbauan kami.

Alasan Anda yakin?
Sebab, mereka kan juga butuh kita. Apabila mereka masih membandel, Kemendiknas akan mempersulit PTS tersebut, baik dalam pemberian akreditasi atau pun hibah.

O ya,  pimpina parpol mulai terjun ke kampus-kampus, tanggapan Anda?

Partai politik boleh saja turun ke kampus-kampus. Namun saya ingatkan, agar kalangan perguruan tinggi untuk menjaga netralitas serta tidak berpihak ke kelompok atau golongan tertentu menjelang Pemilu.  Perguruan tinggi bukan milik satu kelompok saja. Tap harus bisa mengayomi seluruh kelompok. Jangan menjadi basis pendukung dari calon A, atau partai B.

Kalau ada petinggi universitas yang berpolitik, itu bagimana?
Ya harus mundur. Tidak hanya berlaku untuk jajaran rektor, dosen pun sepatutnya harus mundur kalau maju menjadi calon kepala daerah atau legislatif.

Seperti yang dilakukan Rektor Universitas Negeri Semarang,  Prof Sudijono Sastroatmodjo yang mengundurkan diri karena maju sebagai calon wakil gubernur di Pilkada. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

Jaminan Kesehatan 11 Juta Orang Dicabut Bikin Ketar-ketir

Senin, 09 Februari 2026 | 01:29

MKMK Tak Bisa Batalkan Keppres Adies Kadir Jadi Hakim MK

Senin, 09 Februari 2026 | 01:11

Baznas-Angkasa Malaysia Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Masjid

Senin, 09 Februari 2026 | 01:01

Kata Pengantar Buku, YIM: Keadilan yang Memulihkan Hak

Senin, 09 Februari 2026 | 00:35

Bahlil Takut Disebut Pengkhianat soal Prabowo-Gibran Dua Periode

Senin, 09 Februari 2026 | 00:32

Tradisi Jual Beli Istri di Eropa, Budaya Rakyat Abad ke-17 sampai ke-20

Senin, 09 Februari 2026 | 00:09

Sakit Jokowi Dicurigai cuma Sandiwara

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:27

Prestasi Timnas Futsal Jadi Kebanggaan Rakyat

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:22

Delegasi Indonesia Paparkan Konsep Diplomasi Humanis di YFS 2026 Jenewa

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:05

Selengkapnya