Berita

Resep Anti-Korupsi di Tatarstan Sangat Sederhana

MINGGU, 12 MEI 2013 | 04:04 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

John Emerich Edward Dalberg-Acton (1834-1902) dari Inggris yang lebih dikenal sebagai Lord Acton punya adagium yang sampai kini masih berlaku: power tends to corrupt and absolute power corrupt absoultely.

Oleh sementara kalangan di Indonesia, merujuk pada jumlah kasus korupsi yang terbongkar bertambah dari hari ke hari dan kenyataan bahwa kasus-kasus itu melibatkan tokoh-tokoh yang sebelumnya dianggap prominent, adagium Lord Acton itu pun dimutakhirkan menjadi: power tends to corrupt and stupid power corrupt stupidly.

Dalam pertemuan dengan Deputi Menteri Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Republik Tatarstan, Sergey Ivanov, pertanyaan tentang gejala korupsi di subjek Federasi Rusia itu juga sempat diajukan.


Tatarstan sedang berbenah diri dengan kecepatan tinggi menghadapi event internasional bergengsi, olimpiade tingkat mahasiswa yang dikenal dengan istilah Universiade. Berbagai proyek infrastruktur penunjang Universiade 2013 tengah dibangun untuk mengejar deadline di bulan Juli nanti. Mulai dari pembangunan jalan, asrama atlet, arena pertandingan, sampai renovasi bandara Kazan. Pembangunan besar-besaran ini melengkapi pembangunan infrastruktur dalam satu dekade terakhir ini.

Di Indonesia, proyek pembangunan infrastruktur olahraga, yakni pembangunan wisma atlet Sea Games di Palembang, Sumatera Selatan, dan pembangunan pusat olahraga di Hambalang, Sentul, Jawa Barat, diwarnai praktik kongkalikong dan korupsi yang mencengangkan. Petinggi Partai Demokrat Andi M. Mallarangeng, misalnya, terpaksa mengundurkan diri dari posisi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga karena dinilai terlibat dalam kasus korupsi pembangunan pusat olahraga nasional di Hambalang.

Nah, apakah fenomena serupa juga terjadi di Tatarstan? Bila tidak, atau tidak begitu parah, bagaimana cara pemerintah dan masyarakat mengendalikannya?

Sergey Ivanov tampaknya tidak menyangka akan ditanyakan hal itu. Dia sempat tersenyum lebar terlebih dahulu sebelum menjawab.

Tanpa sungkan ia mengatakan bahwa tentu saja praktik korupsi juga ada di Tatarstan. Tetapi dibandingkan negeri-negeri lain, atau subjek federal lain dari Federasi Rusia, fenomena korupsi di Tatarstan terbilang kecil.

"Penyebabnya sederhana, karena rakyat memiliki motivasi yang tinggi untuk membangun sebuah republik yang kuat. Di sisi lain, pemerintah bekerja keras memenuhi janji," ujar Sergey Ibanov.

Faktor lain yang tak kalah penting, sambungnya, Presiden Republik Tatarstan Rustam Nurgaliyevich Minnikhanov yang berkuasa sejak 2010 merupakan manajer yang sangat baik dan mampu menjadi teladan di kalangan aparat penyelanggara negara.

Sepintas tak ada yang istimewa dari resep anti-korupsi yang disampaikan Sergey Ivanov itu. Tetapi hasilnya, Republik Tatarstan kini dikenal sebagai subjek Federasi Rusia terbesar ketiga setelah Oblast Moskow dan Oblast St. Petersburg dalam sejumlah hal, seperti perumahan, pariwisata, industri minyak, olahraga dan pariwisata. Tatarstan menyumbang sekitar 4 persen GDP Federasi Rusia.

Dari catatan yang ada, pondasi aksi anti-korupsi di kalangan pejabat negara di Tatarstan sudah diletakkan presiden pertama, Mintimer Shaimiev yang berkuasa antara 1991 hingga 2010. Pada bulan Agustus 2006, Presiden Shaimiev mengeluarkan dekrit nomor No.UP-315 yang memungkinkan kordinasi antara pemerintah dan kelompok masyarakat sipil dalam memerangi korupsi.

Di tahun 2011, di masa pemerintahan Rustam Minnikhanov yang sedang berlangsung, lembaga semacam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di republik itu menggunakan alat deteksi kebohongan untuk menguji tingkat korupsi di kalangan penyelenggara negara.

"Anda bisa berbohong, tetapi Anda tidak bisa membohongi diri sendiri," ujar Ketua KPK Tatarstan, Oleg Novikov, ketika meluncurkan mesin deteksi kebohongan itu dua tahun lalu, seperti dikutip dari laman Radio Free Europe/Radio Liberty.

Pesta olahraga mahasiswa sedunia di Tatarstan nanti diperkirakan akan sangat spektakuler. Sekitar 13 ribu atlet dari 170 negara akan ambil bagian dalam belasan cabang olahraga yang dipertandingkan. Kazan adalah kota kedua di Federasi Rusia yang mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah Universiade, setelah Moskow di tahun 1973. Tahun 2009 Presiden Dimitry Medvedev, mengeluarkan dekrit khusus mengenai persiapan pelaksanaan Universiade 2013. Setahun kemudian, Kazan dinobatkan sebagai ibukota olahraga Federasi Rusia. [guh]

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya