Berita

Adrianus Meliala

Wawancara

Adrianus Meliala: Penggodokan 8 Nama Calon Kapolri Selesai Akhir Mei

SENIN, 15 APRIL 2013 | 08:35 WIB

.Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) memastikan penggodokan delapan calon Kapolri selesai pertengahan Mei 2013.

“Setelah itu nanti diserahkan ke­pada Presiden SBY. Soal apakah nanti dipilih dari delapan orang itu atau memilih figur lain, itu ter­serah beliau,’’ kata anggota Kom­polnas Adrianus Meliala, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Setelah Presiden menentukan pi­lihannya,  lanjutnya, Presiden mengajukan ke DPR.


Berikut kutipan selengkapnya;

Apa saja kriteria calon Ka­polri untuk menggantikan Ti­mur Pradopo?

Yang menjadi penilaian kami menjadi calon Kapolri  adalah jenderal bintang tiga dan bintang dua, serta masa tugas masih ter­sisa lebih dari dua tahun.

Kami ingin Kapolri ke depan diterima secara internal Polri  dan mendapat dukungan masyarakat.

Apa itu saja?

Tentu tidak. Kami akan lihat juga rekam jejaknya secara me­nyeluruh. Misalnya bagaimana dia saat menjabat menjadi pim­pinan, di tingkat polda, di pusat atau lainnya. Bagaimana interaksi dia de­ngan masyarakat, termasuk apa­kah dia menjadi figur yang baik se­lama tugasnya.

Berarti butuh masukan ma­syarakat?

Ya. Masukan tentu akan kita tampung, baik berupa rekam je­jak  prestasi atau rekam jejak ke­lam­nya. Kalau di kepolisian kan bisa kita pantau datanya.  Tapi ma­syarakat  lebih tahu mengenai itu.

Masyarakat ingin yang tegas dan berani serta jujur,  ini bagaimana?

Saya sudah tahu ada masukan dan keinginan-keinginan seperti itu. Tapi perlu dicatat bahwa un­tuk merekomendasikan calon Ka­polri ini tidak sesimpel yang kita pikirkan.

Apa mungkin diajukan lebih dari delapan orang?

Ah, saya rasa tidak ya.  Dela­pan nama ini saja susahnya minta ampun kita menggodoknya.

Siapa saja sih 8 nama itu?

Ah, nggak usah saya sebut lah.

Apakah semuanya menjabat di Mabes Polri?

Di antara ya. Tapi saya tidak akan sebutkan ya. Lagi pula me­dia sebenarnya sudah lebih tahu kok.

Apa 8 orang itu sudah dimin­tai pendapatnya untuk di­aju­kan sebagai calon Ka­polri?

Sampai sekarang sih belum. Tapi nanti ada saatnya mereka itu kami undang.

Agendanya apa saja?

Agendanya tentu untuk menge­tahui dan mengenal lebih jauh ke delapan orang itu.

Apa sulit mencari delapan nama itu?

Tentunya sulit sekali, tidak seperti milih kepala desa.

Kendalanya apa?

Karena masalah di kepolisian terlalu besar. Kita harus memilih orang yang bisa selesaikan ma­salah-masalah itu.

Masalah besar itu  apa saja?

Banyaklah. Tidak usah bicara tan­tangan ke depan. Sekarang saja yang di depan mata kita saja sudah banyak kelihatan.

Apa itu?

Ketidakpuasan masyarakat ter­hadap kerja dan tindakan kepo­lisian dalam bertugas. Pelayanan yang tidak memenuhi standar pe­layanan publik, dan soal ko­rupsi di tubuh Polri. Tantangan-tan­tangan itu saya rasa masyara­kat juga sudah mengetahuinya. Kapolri baru nanti harus mam­pu menghadapinya dan mem­perbai­kinya agar keperca­yaan publik kepada institusi ke­polisian kem­bali tumbuh.

Apa sinerginitas antara Polri dan TNI yang perlu diper­ha­tikan?

Ya. Itu penting karena belaka­ng­an kan ada kasus bentrok ok­num TNI dan Polri di Ogan Komering Ulu (OKU) dan be­berapa daerah lainnya. Siner­ginitas ini perlu diperbaiki dan dibangun kembali.

Kapan bisa selesai penggo­do­kan nama-nama calon peng­ganti Kapolri itu?

Saya perkirakan pertengahan bulan depan penggodokan 8 na­ma calon Kapolri ini selesai. Se­telah itu baru kami usulkan nama-nama itu kepada Presiden untuk dipilih.

Yakin bulan depan selesai?

Ya, kami yakin di situ sudah selesai penggodokannya.

Apa ada pembatasan penye­ra­han calon Kapolri itu kepada Presiden?

Oh, tidak ada. Pada saat ter­tentu kami akan diterima Presi­den, di situ nanti di serahkan data pantauan kami mengenai calon  Kapolri itu.

Bagaimana kalau delapan nama itu ditolak Presiden?

Kami adalah pembantu Pre­si­den. Terserah beliau saja. Po­­kok­nya,  kami menjalankan tu­gas untuk mengusulkan na­ma-nama calon pengganti Ka­polri. Tetap finalnya di Pre­siden.

Apa harapannya kepada Kapolri baru?

Kami tidak muluk-muluk. Ka­polri ke depan nanti harus bisa membawa perahu Polri ini de­ngan selamat meski banyak gon­cangannya. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

UPDATE

Dubes Iran Halalbihalal ke Kediaman Megawati

Sabtu, 21 Maret 2026 | 12:03

Idulfitri 1447 H, Cak Imin: Saatnya Saling Memaafkan dan Merawat Persaudaraan

Sabtu, 21 Maret 2026 | 12:00

Prabowo Sebut Pemulihan Aceh Tamiang Nyaris Rampung

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:55

Megawati Rayakan Idulfitri Bersama Keluarga dan Sahabat Terdekat

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:40

Pesan Gibran di Idulfitri: Jaga Persatuan dan Kebersamaan

Sabtu, 21 Maret 2026 | 11:32

IEA Ajak Warga Dunia Kerja dari Rumah demi Redam Harga Energi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 10:49

Iran Klaim Kemenangan, Mojtaba Sebut Musuh Mulai Goyah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 10:20

Prabowo Halalbihalal dan Bagi Sembako ke Warga Aceh Tamiang

Sabtu, 21 Maret 2026 | 09:58

Harga Minyak Turun Tipis ke Kisaran 109 Dolar AS

Sabtu, 21 Maret 2026 | 09:47

Pesan Idulfitri: Lima Pelajaran Ramadan untuk Kehidupan yang Lebih Bertakwa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 09:39

Selengkapnya