Berita

Harusnya Sikap Ksatria Ditunjukkan SBY-Boediono

KAMIS, 04 APRIL 2013 | 23:02 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Sikap yang ditunjukkan 11 anggota Grup II Kopassus Kartosura atas tindakan mereka membunuh empat preman pelaku kriminal di Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, patut diteladani. Dengan jujur mereka mengakui, bertanggungjawab dan siap dihukum.

Pernyataan, pengakuan dan pertanggungjawaban yang disertai kesiapan untuk dihukum atas perbuatan salah yang telah mereka lakukan merupakan sikap ksatria, yang selama ini jadi barang langka di negeri kita.

"Sikap ksatria yang ditunjukkan prajurit muda Kopassus ini jelas berbeda secara diameteral dengan sikap Jenderal "salon" Presiden SBY, Wapres Boediono, para politisi, polisi dan penegak hukum, serta penyelenggara negara lainnya. Mereka telah menjadikan sikap pengecut, penipu, pembohong dan pengkhianat sebagai budaya hidup," kata aktivis Petisi 28, Haris Rusly Moti, dalam pesan Blackberry-nya yang diterima redaksi, Kamis (4/4).


Kejahatan hukum dan politik yang dilakukan SBY dan Boediono bukan lagi rahasia, mulai dari pemenangan pemilu dengan memanipulasi DPT, membobol uang rakyat Rp 6,7 triliun melalui Bank Century dan BLBI  maupun kejahatan-kejahatan lainnya. Meski telah dibuktikan kebenarannya oleh sejumlah lembaga tinggi negara, namun mereka yang mestinya menjadi teladan moral malah menunjukkan sikap pengecut dengan tidak mau mengakuinya.

Sikap tak ksatria ini telah mewariskan kepada generasi muda penerus bangsa sebuah nilai-nilai yang biadab.

Tentu, kata Haris, pembunuhan dalam kasus Cebongan ini sebagai tindakan tidak tepat dan melawan hukum. Namun, perlu dilihat secara seksama latar belakang yang menyebabkan hal itu terjadi. Penyebabnya adalah keadaan hukum yang diskriminatif, yang menjadikan pasal-pasal hukum sebagai komoditi yang diperdagangkan.

"Kita nantikan bangkit dan bersatunya ksatria muda bangsa menegakkan "pengadilan rakyat" dengan gagah berani," imbuh dia. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya