Seusai ditetapkan sebagai Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Syarief Hasan segera melakukan konsolidasi dan menyiapkan Daftar Caleg Sementara (DCS).
“Saya akan terus lakukan konsolidasi dan penyelesaian DCS yang sudah hampir selesai,†kata Syarief Hasan kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Syarief memastikan masalah DCS tidak lagi ada kendala karena sudah ada ketua umum. Sekalipun begitu, ia tetap mencermati masalah apa lagi yang perlu diselesaikan.
Berikut kutipan selengkapnya: Setelah ditetapkan sebagai Ketua Harian DPP Demokrat, apakah Anda langsung bekerja?Ya, setelah tanggal 31 Maret sore ditetapkan, saya langsung menggelar rapat pada hari Senin, sampai pukul 11 malam di DPP.
Apa respons dari pengurus DPP?Mereka meresponsnya luar biasa. Mereka berpikir kalau partai bekerja profesional dan tepat waktu.
Memang kinerja yang Anda terapkan, bagaimana?Saya terapkan manajemen waktu dan upayakan kerja profesional dan tepat waktu, yakni undangan jam 7 pagi teng! Tidak molor-molor. Saya langsung mulai. Mereka bingung karena tidak pernah merasakan kerja seperti itu. Inilah salah satunya manajemen waktu yang saya terapkan.
Bagaimana Anda membagi waktu di partai dan kementerian?Sesuai arahan Presiden SBY, jabatan menteri adalah yang utama. Saya kerjakan pekerjaan partai setelah jam kerja di Kementerian berakhir. Atau di hari libur, saya memikirkan kerja partai atau keluar kota. Ada tambahan jam kerja.
Apakah banyak PR di partai yang harus diselesaikan dan Anda mampu mengerjakannya?Saya mampu. Dalam waktu dekat ini, kami mau melakukan konsolidasi intern dan mencoba memecahkan beberapa masalah yang belum terselesaikan.
Apakah masih ada faksi-faksi di Demokrat?Menurut saya, sekarang tidak ada faksi-faksi lagi. Kalau ada yang berkualitas tentu akan ditempatkan di tempat yang semestinya. Yang jelas, tidak ada perombakan kepengurusan. Yang ada, cuma melengkapi.
Tujuan KLB adalah untuk mencari Ketua Umum saja kok. SBY adalah figur penyelamat dan sekaligus pemersatu. Kepengurusan hanya melengkapi, bukan mengubah kepengurusan.
Ada yang bilang SBY jadi Ketum PD adalah upaya membangun politik dinasti, apa tanggapan Anda?Keliru kalau dikatakan ini politik dinasti. SBY sendiri sebenarnya itu tidak mau jadi Ketum. Tapi, karena dipaksa oleh DPD dan DPC, maka SBY ajukan syarat-syaratnya.
Itulah disampaikan terbuka untuk pers juga kan?Syaratnya waktu itu ketua harian menjalankan tugas sehari-hari. Ketum hanya tiga hal yang ditangani, yakni menandatangani caleg (DCS), rekomendasi calon gubernur dan wagub, dan calon presiden dan wapres. Itulah solusi syarat yang diajukan SBY.
Apakah keberadaan Ketua Harian DPP Demokrat diatur dalam AD/ART Partai?Itu semua diatur dalam AD/ART dan ada perubahan di dalamnya. Tapi, nggak semuanya.
Masalah pencalegan di Partai Demokrat bagaimana? Pencalegan sudah berjalan bagus, tinggal diverifikasi sekali lagi. Saya akan lihat apa hambatan atau kekurangannya. Besok malam (malam ini) kami akan rapat lagi tentang pencalegan dan apa hambatannya. Pokoknya sekarang mesin partai sudah berjalan sesuai harapan. Jadi, ini konsolidasi ke dalam.
Berapa persen caleg yang terkumpul dari target awal?Seperti saya katakan soal pencalegan sudah bagus dan berjalan baik. Dari 1.400 formulir yang kembali ke DPP 900 formulir. Kalau kami dapat tembus jadi 1.000 formulir. Artinya, kami sudah mencapai 200 persen dan melampaui target.
Artinya, tidak ada kendala sebelum tanggal 22 April?Saya sangat yakin DCS bisa selesai cepat. Semua kan sudah siap. Kemarin itu kan masalahnya tinggal menentukan Ketum saja.
Targetnya, pencapaian pemulihan elektabilitas berapa persen?Tahun ini, target pemulihan elektabilitas bisa tembus sampai 15 persen.
Anda yakin elektabilitas Partai Demokrat naik?Saya yakin 100 persen meningkat. KLB di Bali itu adalah momen untuk kebangkitan Partai Demokrat.
Kalau yakin, kenapa hanya 15 persen targetnya?Realistis saja 15 persen. Angka yang moderat. Mencermati survei yang turun belakangan ini menjadi 8 persen, tidak ada salahnya kalau kami kembali menarget 15 persen. [Harian Rakyat Merdeka]