.Konsumen Mazda mesti waspada. 20 unit All New Mazda6 yang baru masuk Indonesia mengalami perbaikan. Padahal, mobil itu belum diluncurkan ke pasar. Sebanyak 15.000 unit produk Mazda6 ditarik sementara alias recall.
Penarikan Mazda6 ini dilaÂkukan karena terdapat gangguan komponen elektrik yang dapat menyebabkan panas, serta asap yang bisa memicu kebakaran, seÂhingga membahayakan keseÂlamatan pengemudi.
Manajer Pemasaran PT Mazda Motor Indonesia (MMI), Astrid Ariani Wijaya menegaskan, reÂcall yang terjadi di Australia dan negara Eropa tidak terjadi di Indonesia.
“Memang ada perbaikan seÂkitar 20 unit All New Mazda6 yang telanjur masuk Indonesia. Tapi ini bukan
reÂcall, hanya sekadar perbaikan dan pengeÂcekan. Karena kami pun belum meluncurkannya, dan mobil ini beÂlum ada di tangan konsumen mauÂpun
dealer,†kilah Astrid saat diÂkontak
Rakyat Merdeka, kemarin.
Astrid mengaku, 20 unit mobil yang mengalami perbaikan terÂseÂbut, merupakan mobil yang diÂmiÂliki oleh
principal dan mobil keÂbuÂtuhan promosi, sehingga tidak ada kekhawatiran mobil tersebut akan membahayakan konsumen.
“Saat ini, baru 20 unit Mazda6 yang masuk Indonesia. Dealer pun belum menerima unitnya. Kami mendapat arahan dari Mazda Motor Corporation (MMC) untuk melakukan perbaikan terlebih dahulu,†kilahnya.
Astrid mengatakan, kenÂdaÂraan jenis
hatchback ini renÂcaÂnanya akan dirilis di Indonesia pada 10 April.
“Kami pastikan saat mobil diluncurkan sudah dalam kondisi aman. Jadi perbaikan ini tidak ada kaitannya dengan
reÂcall di luar. Tapi hanya bentuk tanggung jawab dan komitmen Mazda seÂbelum produk tersebut di paÂsarÂkan,†tuturnya.
Ia menjelaskan, perbaikan ini dilakukan karena kapasitor untuk menyimpan energi dari peÂngeÂreman dinilai terlalu panas. Namun, Astrid membantah, jika yang bermasalah pada produk teranyar Mazda tersebut berasal dari kapasitor.
“Komponen yang bermasalah adalah
ceramic condensor pada converter DC-DC, yang terhuÂbung pada kapasitor. Komponen tersebut berpotensi mengalami panas saat menyesuaikan tenaga yang masuk pada kapasitor,†terangnya.
Dikatakan, komponen yang dipakai Mazda6 yaitu teknologi i-ELOOP untuk menghemat enerÂÂgi. i-ELOOP merupakan teknologi
regenerative braking yang menggunakan kapasitor sebagai penyimpan listrik seÂmentara, karena bisa terisi penuh dalam waktu beberapa detik saja.
Kemudian teknologi ini akan mengisi kapasitor saat deselerasi, baik saat mengerem, lepas gas, atau turunan. Dalam beberapa detik, kapasitor sudah bisa penuh dan bisa dilihat
Multi Information Display (MID).
Selanjutnyam saat akselerasi, kapasitor akan menggantikan fungsi alternator untuk memÂberikan listrik kepada komponen kelistrikan mobil, seperti audio, lampu dan AC. Apabila terdapat surplus listrik, akan disalurkan untuk mengisi aki sehingga alternator tidak perlu bekerja dan tidak membebani mesin.
Hal ini akan mengurangi pengÂgunaan BBM, karena beban mesin menjadi lebih ringan, dan akan membuat seluruh tenaga mesin dapat disalurkan untuk berakselerasi.
Pengamat otomotif, Suhari Sargo menilai, terjadinya
reÂcall merupakan hal yang biasa tiap kendaraan. Karena kendaraan tersebut terdiri dari puluhan ribu komponen di dalamnya, terÂmaÂsuk All New Mazda6.
“Rata-rata pabrikan itu tidak memproduksi sendiri kendaÂraÂannya. Ada suplier yang menaÂngani tiap-tiap bagian dari komÂponen kendaraan,†ungkapnya.
Menurut dia, harus ada stanÂdarisasi produk otomotif di InÂdonesia, mengingat hampir seÂmua produk otomotif diimpor dari luar.
“Di Amerika, mereka punya Lembaga Nasional Keselamatan Jalan Raya (NHTSA) bagi inÂdustrinya, di Indonesia yang banyak konsumennya, belum ada,†cetusnya.
Selama ini, kata Suhari, kalau ada
reÂcall atau kasus hukum di industri otomotif belum pernah diusut tuntas. Kasusnya, malah dibiarkan saja.
“Maka nggak heran di IndoÂnesia, banyak terjadi perÂmaÂsalahan industri otomotif, mulai dari recall hingga kasus yang di bawa ke pengadilan, akibat renÂdahnya regulasi dan sistem stanÂdarisasi di Indonesia,†ucapÂnya. [Harian Rakyat Merdeka]