Berita

Dunia

Kerusuhan Sektarian di Yangon Tergolong yang Paling Parah

SELASA, 26 MARET 2013 | 14:49 WIB | LAPORAN: MUHAMMAD Q RUSYDAN

. Korban tewas kerusuhan di pusat kota Yangon, Myanmar, antar massa pemeluk Buddha dengan kelompok lokal Muslim, telah mencapai angka 40 orang. Sudah lebih dari delapan mayat ditarik dari puing-puing kerusuhan yang terjadi.

Seperti dilansir oleh Channel News Asia, hari ini (Selasa, 26/3), bentrokan itu dianggap peringatan nyata dari tantangan yang menimbulkan ketegangan sektarian terhadap pemerintah Myanmar karena mencoba mereformasi negara itu setelah beberapa dekade dipimpin oleh militer yang berakhir dua tahun lalu.

Dalam pernyataan resmi yang disiarkan di televisi kemarin, pemerintah Myanmar menyerukan untuk menghentikan "ekstremisme agama" yang bisa menghambat proses reformasi di negara itu.


Pemerintahan sipil telah menghadapi tekanan yang kuat atas kerusuhan itu. Menurut kantor PBB untuk Bidang Kemanusiaan, pemerintah Myanmar telah mentelantarkan lebih dari 12.000 orang.

Bentrokan tersebut dipicu oleh adu argumentasi transaksi jual beli emas antara pemilik toko yang merupakan pemeluk Islam dengan pembeli yang merupakan pengikut Buddha pada 20 Maret lalu di Meiktila, 130 kilometer dari arah utara Naypyidaw. Adu mulut melebar jadi aksi saling serang yang terus meluas memicu amarah massa mengakibatkan masjid dan toko emas dibakar, rumah dirusak dan mayat dibiarkan di jalanan.

Puluhan orang telah ditahan terkait kekerasan itu, beberapa merupakan perusuh bersenjata, termasuk pendeta Buddha yang berkeliaran di jalan mengancam para jurnalis yang melaporkan kejadian di kota itu.

Kerusuhan sektarian ini juga merupakan yang terburuk sejak kerusuhan antara Rakhine dan etnik Rohingya di barat provinsi Rakhine tahun lalu yang menyebabkan 180 orang tewas dan 110.000 orang terlantar.

Koran setempat, New Light of Myanmar, menyatakan, ada beberapa kelompok orang yang tak bernama yang tidak mau melihat perdamaian dan stabilitas di negara itu. Mereka terus mencoba mengguncang perdamaian dan ketenangan di Yangon. [ald]

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya