Berita

Agum Gumelar

Wawancara

Agum Gumelar: Rakyat Pasti Menderita Bila SBY Digulingkan

KAMIS, 21 MARET 2013 | 08:52 WIB

Semua pihak diminta untuk mempertahankan pemerintah SBY-Boediono sampai berakhir masa jabatannya.

“Saya mengajak masyarakat untuk tidak menjatuhkan peme­rintah SBY di tengah jalan. Itu car­a inkonstitusional,’’ ujar Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) Agum Gu­melar kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Pada 25 Maret 2013 dika­barkan akan ada aksi be­sar untuk mengkritisi berbagai kebijakan peme­rintahan SBY.


Agum Gumelar selanjutnya mengatakan, pemerintah ini men­dapat dukungan dari rakyat, sehingga jangan digulingkan di tengah jalan.

Berikut kutipan selengkapnya;

Bagaimana kalau tetap ada demo besar itu?

Kalau melakukan demo itu kan wajar saja. Nggak ada yang salah. Tapi saya himbau agar semua pi­hak memikirkan rakyat.

Yang demo itu juga menga­tas­namakan rakyat, ini ba­gai­mana?

Bila SBY digulingkan dengan cara inkonstitusional pasti rakyat menderita. Ini yang perlu dipikir­kan, kasihan rakyat kita. Makanya pemikiran-pemikiran untuk me­lakukan tindakan in­konstitusio­nal tidak boleh dipa­kai. Kalau demo wajar, tapi ja­ngan sampai terkonta­minasi oleh pemikiran yang salah.

O ya, bagaimana dengan tujuh jenderal purnawirawan yang mengajukan enam capres ke Presiden SBY?

Saya kira itu hal yang biasa. Bukan sesuatu yang perlu dikha­watirkan.
 
Kenapa Anda mengatakan itu adalah hal yang biasa? 

Memang itu kan biasa saja. Apalagi, Pak Luhut Panjaitan dan sejumlah teman-teman suka ber­temu dengan Pak SBY. Wajar saja kan kalau mereka mengu­sulkan enam capres itu.

Bagaimana dengan Pepabri, apa mau bertemu dengan Pre­siden?


Loh, kami Pepabri  yang terdiri dari purnawirawan angkatan darat, laut, udara dan polisi malah rutin diterima dan melakukan diskusi dengan Presiden SBY.

Apakah Pepabri  menyam­pai­kan nama-nama capres juga?

Oh, tidak.

Masa sih ?

Pepabri hanya menggodok kriteria leadership saja untuk mendewasakan cara berpikir rakyat.

Apa saja kriteria itu?


Soal kepemimpinan kita untuk ke depan di  2014 ada empat kri­te­ria leadership dalam wacana in­ternal kami.

Apa itu?

Pertama, pemimpin tidak ambivalensi untuk memimpin bangsa sebesar ini. Kalau am­bivalen bahaya.

Kedua, pemimpin harusnya tidak takut untuk tidak populis. Artinya berani mengambil ke­putusan demi bangsa dan negara.

Ketiga, pemimpin harus punya keberanian sikap tegas. Tegas di sini maksudnya dalam koridor hukum, bukan tegas seperti dulu, main culik dan  main libas.

Maka jangan salah mengar­tikan tegas itu. Kalau dinilai SBY kurang tegas, lantas antitesanya mencari orang yang tegas. Tapi jangan keliru. Tegas itu bukan berarti main pukul, hantam dan lainnya. Bukan itu yang kita mau. Tegas yang dimaksud adalah te­gas dalam koridor hukum.

Keempat, seorang pemimpin itu tidak mentolelir sesuatu yang salah di masyarakat. Kalau ada ormas yang salah, melanggar hu­kum, maka harus diproses  secara hukum.

Ormas mana yang Anda maksud?

Semua ormas yang melakukan pelangaran hukum, apa itu ormas Islam, Kristen, Hindu, Budha atau lainya, proses semuanya.

Pokoknya, siapa pun yang me­langgar hukum, baik tukang be­cak, mahasiswa, menteri, atau pre­siden sekalipun, maka harus diproses hukum.  

Hukum itu harus kita imple­men­tasikan, bukan sesuatu yang dikompromikan. [Harian Rakyat Merdeka]
 

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya