Berita

Giliran Seniman Musik Mengecam Keras Presiden SBY

MINGGU, 17 MARET 2013 | 23:47 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kecaman kalangan oposisi terhadap pemerintahan Presiden SBY sudah sering terdengar. Kini giliran sejumlah seniman musik yang bersuara keras memprotes kebijakan SBY.

Kecaman dari kalangan seniman musik ini berkaitan dengan Keppres 10/2013 Tentang Hari Musik Nasional. Kalangan seniman musik menilai ada banyak kejanggalan yang melatarbelakangi lahirnya keputusan sepihak tersebut.

Menurut Ketua Lembaga Musik Indonesia Didied Mahaswara dalam keterangan yang diterima redaksi, penetapan Hari Musik Nasional tersebut tidak melibatkan para seniman musik tradisional yang selama ini bersusah payah mempertahankan eksistensi dan derajat jenis-jenis musik etnis tanah air secara nasional, regional, dan internasional, namun hanya melibatkan seniman musik dari kalangan industri rekaman dan para artis pop.


Para musisi yang tergabung dalam Lembaga Musik Indonesia dan beberapa musisi lainnya juga kurang setuju bila Hari Musik Nasional ditetapkan pada tanggal 9 Maret yang merujuk pada hari lahir Wage Rudolf Supratman.

Masalah penentuan tanggal ini menurut Didied Mahaswara masih sangat kontroversial karena antara lain mengandung pengkultusan dan membuat kalangan pemusik tidak nyaman karena masih banyak seniman musik yang juga berjasa dalam perkembangan musik Indonesia, antara lain Ismail Marzuki dan Amir Pasaribu.

Didied Mahaswara juga mengatakan, bersama Beni Panjaitan, ia sejak era 1980an memprakarsai Hari Musik. Di tahun 2000 mereka membentuk panitia Hari Musik sekaligus menggagas perlunya Museum Musik Indonesia.

Selanjutnya bersama Rinto Harahap, Is Haryanto, Sadikin Zuchra, Didied Mahaswara menemui Ketua DPR RI saat itu yaitu Akbar Tandjung, juga Menteri Hukum dan HAM.

"SBY harus merevisi Keppres tersebut atau membatalkannya. Kemudian rumuskan kembali Hari Musik tersebut dengan melibatkann seluruh elemen seniman musik tanah air," masih kata Didied.

Dia juga mengatakan, istilah Hari Musik Nasional terasa kurang tepat. Sebaiknya diganti dengan istilah Hari Musik Indonesia karena lebih memperlihatkan aspek nasionalisme dan etnik di dalamnya. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Menhan Sjafrie-Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:11

Kompensasi Uang Bau TPST Bantar Gebang Molor

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:01

DJP: Sistem Sudah Siap Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:25

GMNI Dorong Efisiensi APBN Berorientasi Kesejahteraan

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:12

CBA Ancam Laporkan KPK ke Dewas soal Suap Impor Bea Cukai

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:34

Erling Haaland Bawa Norwegia Tantang Brasil

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:22

Ini Alasan Upacara Hari Bhayangkara Digelar di Satlat Brimob Polri Cikeas

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:00

Sanksi Partai Tak Bisa Gantikan Proses Hukum Kasus Dokter Icha

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:41

Selengkapnya