Berita

Ardina Rasti

Blitz

Rasti Ancam Pembantu Beri Kesaksian Palsu?

SENIN, 11 MARET 2013 | 09:16 WIB

Si pembantu yakin Rasti dan Eza cekcok biasa saja. Tidak ada bantingan HP, pintu, kursi dan penganiayaan.

Perseteruan Ardina Rasti dan Eza Gionino memasuki babak baru. Belum juga bersua di pengadilan, keduanya sudah terlibat masalah bukti dan kesaksian palsu. Isu terbaru ini dicuatkan Fendi, orang yang mengaku bekas pembantu di rumah Rasti.
 
Fendi, salah satu saksi yang dihadirkan di Polres Jakarta Selatan dalam kasus kekerasan oleh Eza beberapa waktu lalu. Menurut Fendi, dia dipaksa untuk memberikan keterangan palsu bahwa dirinya melihat Eza menganiaya Rasti.


“Padahal dia (Fendi) hanya mendengar ada keributan. Waktu itu kejadian sekitar pukul 04.00 WIB, Eza mengetuk pintu dan dibukakan oleh saksi. Setelah itu masuk kamar dan mendengar ada keributan,” ungkap kuasa hukum Fendi, Riandra Y Disastra, akhir pekan lalu.

Dijelaskan pula keterangan palsu Fendi yakni tentang barang-barang yang rusak saat keributan tersebut. “Misalnya pintu yang rusak, nggak seperti itu. Pintu dan kursi masih baik-baik saja,” bebernya.

“Bukti BlackBerry itu bukan punya Rasti, nggak sama seperti yang dipakai Rasti. BB Rasti itu casing-nya berwarna-warni,” sambung Riandra.

Fendi akhirnya memutuskan berhenti bekerja dengan Rasti. Apalagi, setelah tahu dampak kebohongannya ini kekasih majikannya, Eza, ditahan.

“Saksi iba pada Eza, kok sampai ditahan karena pembohongan. Dia kasihan dan memutuskan berhenti jadi pembantu Rasti dan ingin memberikan keterangan,” tambah Riandra.

Jumat lalu, Fendi mendatangi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Ini lantaran dirinya takut dengan ancaman yang disampaikan via telepon dan SMS. Sayangnya, Riandra tidak bisa menunjukkan bukti ancaman tersebut.

“Ancaman itu dilakukan setelah Fendi bilang mau mengatakan yang sebenarnya terjadi. Ancaman ini berupa SMS dan telepon dari nomor yang tak dikenal,” ucap Riandra.

“Keterangan yang diberikan klien kami adalah arahan dari pihak Rasti. Dia diarahkan, misalnya lu bilang mbak Rasti dipukul mas Eza, dua menit saja,” imbuhnya.

Pengakuan Fendi langsung dibantah Rasti. Menurut kuasa hukumnya, Aldi Firmansyah, Rasti hanya memberi dukungan kepada Fendi agar berkata yang sejujurnya.

“Pada saat bertemu dengan penyidik kita bilang, kamu harus jujur apa yang kamu lihat, bilang saja. Begitu juga dengan penyidik (memberi dukungan),” ungkap Aldi.
“Dia bilang nggak pernah melihat kejadian itu, tapi sering mendengar, nggak pernah bilang pernah melihat. Kita bilang ceritakan apa adanya jangan takut, harus jujur,” lanjutnya.

Saat itu merupakan komunikasi terakhir antara Rasti dan Fendi. Setelah diperiksa penyidik, Fendi pun menghilang.

“Dia kabur, dia bilang takut memberi keterangan karena tak mau merugikan salah satu pihak. Dia kabur ke Malang, belum sempat BAP (Berita Acara Pemeriksaan),” ujarnya.

Namun, polisi tampaknya langsung memberi surat panggilan untuk Fendi. Setelah itu, Fendi pun akhirnya mau memberi kesaksian setelah dibuat BAP.

“Dari keterangan penyidik di BAP, dia nggak lihat tapi hanya mendengar. Dari keterangan itu, polisi sudah menyimpulkan bukti yang cukup sehingga Eza langsung ditahan,” jelasnya.

Aldi pun menegaskan, pihaknya hanya ingin Fendi berkata jujur. Tidak ada teror maupun ancaman.

“Intinya kita ingin dia berkata jujur. Saksi lain juga memang tak melihat secara langsung, tapi mendengar. Kita memang apa adanya, polisi menyimpulkan tanpa ada tekanan karena bukti itu cukup,” tandas Aldi.

Fendi diketahui sebagai orang yang diperkenalkan Eza ke Rasti untuk menjadi pembantu rumah tangga di rumahnya. Sebelum memberi kesaksian, Fendi mengirim SMS kepada Rasti.

“Yang saya tahu, Rasti sempat terima SMS yang bilang, mohon maaf saya pergi dari rumah. Tapi, saya nggak tahu apakah Rasti balas atau bagaimana,” tutur Aldi seraya menyebut bahwa isu Fendi bersaksi palsu itu merupakan usaha pengalihan isu. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya