Berita

Johnny Allen Marbun

Wawancara

WAWANCARA

Johnny Allen Marbun: Kalau KLB Demokrat Digelar Sekarang, Peserta Dari Daerah Kesulitan Ongkos

KAMIS, 07 MARET 2013 | 09:50 WIB

Berbagai argumen disampaikan petinggi Partai Demokrat tentang belum dilaksanakannya Kongres Luar Biasa (KLB) untuk memilih ketua umum baru.

Wakil Ketua Dewan Pembina Marzuki Alie bilang, semua kader Partai Demokrat harus bersatu dulu sebelum digelar KLB. Saat ini mereka sedang membenahi puing-puing yang terbelah.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Johnny Allen Marbun punya alasan lain. Kalau KLB digelar saat ini, tentu memberatkan peserta dari daerah. Sebab, belum lama ini juga melaksanakan Rapimnas di Jakarta.


“Kami baru menyelenggarakan Rapimnas dengan biaya besar. Umumnya pengurus di daerah-daerah itu menanggung ongkos sendiri. Artinya, bila KLB digelar sekarang, peserta dari daerah kesulitan ongkos dong,’’ kata Johnny Allen Marbun kepada Rakyat Merdeka, Selasa (5/3).

Berikut kutipan selengkapnya;


Masak partai besar mempermasalahkan soal ongkos?
Meski partai kami besar, tapi tidak seperti partai besar lain yang matang dalam pendanaan. Kami besar berkat swadaya. Pendanaan KLB itu bersumber dari usaha sendiri.

Apa itu saja alasannya, sehingga KLB belum digelar?
Dalam pertemuan dengan Majelis Tinggi, Minggu lalu,  salah satu yang dibahas mengenai KLB itu agar pelaksanaannya lebih baik dan tidak melanggar aturan.

Apa SBY berperan dalam menentukan calon ketua umum?
Dengan segala wewenang yang dimiliki Pak SBY, tentu mengikuti setiap perkembangan partai, termasuk calon ketua umun yang dimunculkan. Itu juga yang dilakukan beliau saat Kongres di Bali dan Bandung.

Kini sudah muncul sejumlah nama, apa reaksi SBY?

Kalau ada nama bermunculan, tentu beliau tidak bisa melarang. Tapi  saat KLB nanti, apa nama itu muncul atau tidak, tentu tergantung persyaratan. Orangnya harus lolos penjaringan dan memenuhi mekanisme yang ada.

Apa kriterianya?
Itu yang nanti kami bicarakan, bagaimana mekanismenya. Ini   bukan sekadar selera. Semua orang punya selera, tapi proses menselaraskan selera ada tahapan-tahapannya.

Bagaimana dengan calon ketua umum yang berasal dari luar Partai Demokrat?
Munculnya nama-nama itu, apa mesti kita larang, kan tidak begitu. Partai kami milik rakyat. Kalau rakyat punya calon, kita tampung.

Logikanya, kalau mau diperhitungkan, orang itu setidaknya sudah go public.

Ada yang  menilai, yang terpilih menjadi ketua umum harus dapat restu SBY, apa begitu?
Silakan saja berasumsi seperti itu. Tapi faktanya penetapan ketum kami selalu demokratis. Semua itu berdasarkan kongres, baik itu kongres  Bali dan Bandung.

Oh ya, bagaimana dengan caleg, apa tidak khawatir tidak sah karena tidak ditandatangani ketua umum?  
Kami meminta KPU menelaah lagi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik, terutama pasal 12 poin b yang menyebutkan, organisasi politik mengatur organisasinya secara mandiri.

Kami juga meminta mereka menyikapi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Legislatif, khususnya pasal 53 dan 57.

Dalam pasal 53 mengatakan, calon anggota partai legislatif disusun oleh pengurus parpol.
 
Sedangkan pasal 57 menyebutkan, keikutsertaan mereka ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekjen atau sebutan lain.
 
Sebutan lain itu artinya tetap sebagai pemimpin partai, bukankah Demokrat lagi lowong?
Dalam parpol ada AD/ART yang  mengacu terhadap Undang-Undang parpol. Di situ disebutkan, parpol  berhak mengatur rumah tangganya sendiri.

Kami mau menyambungkan di situ. Meski tanpa ketum, kami masih ada pembagian organisasi, pembagian tugas. Organisasi itu tidak mati.
 
Kami masih bisa berorganisasi dengan dua wakil ketum, satu sekjen dan satu Direktur Eksekutif. Empat orang ini yang melaksanakan tugas ketum. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

UPDATE

Ledakan Malam Takbiran di Grobogan dan Pekalongan, 10 Orang Terluka

Sabtu, 21 Maret 2026 | 21:49

Ziarah Makam Korban Longsor Cisarua Diwarnai Suasana Emosional

Sabtu, 21 Maret 2026 | 21:35

Fahira Idris: Jadikan Idulfitri Momen Kebangkitan Umat

Sabtu, 21 Maret 2026 | 20:53

SBY dan Keluarga Silaturahmi ke Prabowo di Istana

Sabtu, 21 Maret 2026 | 20:16

Mendes: 20 Persen Keuntungan Kopdes Merah putih untuk Desa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:54

Dengan Kerjasama, Stabilitas Kebutuhan Pokok Terjaga

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:26

Gubernur Pramono Ajak Warga Jaga Jakarta

Sabtu, 21 Maret 2026 | 18:33

Soroti Pajak Ganda, DPR: Sudah Lama Sistem Dibiarkan

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:43

Didampingi Didit, Prabowo Open House Khusus Masyarakat di Istana

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:13

Idulfitri Momentum Perkuat Komitmen Pembangunan

Sabtu, 21 Maret 2026 | 16:54

Selengkapnya