Berita

Social Media Bikin Demokrasi Makin Semarak

KAMIS, 28 FEBRUARI 2013 | 18:02 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Perubahan politik di Indonesia akhir 1990 an ditumpangi kebangkitan industri media massa dan perkembangan platform baru media (new media) yang memberikan ruang dan akses maksimal bagi setiap warga negara.

Pengamat media Muchlis Hasyim mengatakan, kini informasi bukan merupakan komoditas eksklusif yang diakses segelintir orang, melainkan dimiliki siapa saja. Setiap warga negara yang memiliki akses maksimal media dengan platform apapun dapat terlibat proses pembentukan opini umum.

"Industri media di Indonesia pasca reformasi tumbuh bagai jamur di musim hujan. Hal ini dimungkinkan karena semangat liberalisasi (bisnis) pers  (media) yang mengikuti pergeseran model politik dari otoritarianisme ke demokrasi," kata Muchlis dalam Youth Public Lecture di Auditorium Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, Jakarta, Kamis (28/2).


Pada masa sebelumnya jumlah media cetak diperkirakan kurang 300 buah. Sementara kini diperkirakan lebih 1.000 media cetak terbit dengan berbagai skala. Bila sebelumnya ada enam stasiun televisi melakukan siaran nasional, kini ada belasan TV nasional ditambah puluhan TV lokal dimiliki berbagai kelompok perusahaan media. Tadinya, yang diperkirakan terancam era baru pers adalah radio. Namun ternyata ratusan stasiun radio yang tersebar di seluruh penjuru negeri dapat mempertahankan diri umumnya dengan melokalisir dan membidik segmen audiens yang tepat.

"Apa yang tidak ada pada masa-masa sebelumnya dan saat ini menjadi fenomena yang luar biasa adalah social media. Kehadiran social media dimungkinan revolusi teknologi informasi yang semakin menjadi-jadi dalam beberapa tahun belakangan ini," sambung dia.

Pada 1999 diperkirakan hanya ada 500 ribu pengakses internet di seluruh Indonesia. Pengakses internet generasi pertama ini  tidak begitu aktif mengingat interaksi mereka dengan internet masih terbatas pada jam kerja perkantoran. Di tahun 2005, menurut Asosiasi Perusahaan Jasa Internet Indonesia (APJII) jumlah pengakses internet melonjak berkali-kali di angka belasan juta pengakses. Generasi kedua pengakses internet ini sudah lebih aktif, dan tidak tergantung pada koneksi yang ada di tempat kerja. Internet telah merambah ke rumah-rumah tangga.

Perkembangan IT yang semakin canggih, jelas jurnalis senior itu, mempertemukan piranti pintar (smartgadget) dengan berbagai program (applications) yang membuat setiap orang yang ingin terlibat dalam keriuhan informasi di ranah internet dapat dengan mudah menceburkan diri, dengan kemampuan koneksi bergerak (mobile connection access). Diperkirakan kini pengakses internet di Indonesia mencapai angka 50 juta pengakses. Menurut data yang dirilis APJII Desember tahun lalu, sekitar 65 persen pengguna internet di Indonesia saat ini terkoneksi dengan smartphone. Bandingkan dengan data tahun 2009 yang dirilis Indonesia Consumer Profiles yang menyebut bahwa pengakses internet melalui mobile phone ketika itu hanya 0,4 persen.

"Bila media konvensional atau mass media memiliki tradisi organisasi dan metode kerja yang ketat, sebaliknya social media dapat dikatakan merupakan representasi individu di ranah jejaring internet. Ia tidak harus terorganisir," sebut Muchlis yang merupakan pendiri Inilah.com.

Dia mengungkap, data Internet World Stats menyebut, sampai September 2012 pemilik akun Facebook di Indonesia sebanyak 47,5 juta. Sementara hingga bulan April di tahun yang sama pemilik akun Twitter di Indonesia sebanyak 19,5 juta. Ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik konsentrasi pengguna jejaring media social di dunia. [dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya