Berita

bnp2tki/ist

Jumhur: Saya Kasihan pada Kualitas JARI-PPTKILN

MINGGU, 24 FEBRUARI 2013 | 21:55 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Dikritik karena lembaga yang dikepalainya, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), dinilai sebagai calo resmi bentukan pemerintah bagi TKI di negara lain, Jumhur Hidayat justru merasa kasihan karena kualitas kritik yang dilontarkan itu terlalu rendah.

"Saya jadi kasihan sama kelompok ini," ujar Jumhur kepada Rakyat Merdeka Online (Minggu 24/2) dalam menanggapi kritikan tajam dari anggota Tim Substansi Jaringan Advokasi Revisi UU tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (JARI-PPTKILN) Pratiwi Febry yang diarahkan kepada BNP2TKI.

Namun begitu, Jumhur tidak yakin JARI-PPTKILN punya kualitas kritik serendah itu.


"Saya masih berkeyakinan itu bukan pendapat JARI-PPTKILN melainkan hanya pendapat pribadi anggotanya saja. Namun begitu, bila pernyataan anggotanya itu diamininya, ya berarti memang kelas JARI-PPTKILN seperti itu (rendah). Tidak ada kata lain selain hanya mengasihani," ujar Jumhur dengan tenang.   

Secara umum Jumhur mengomentari adanya orang-orang  yangg mengaku aktivis NGO tapi komentarnya substandard seperti JARI-PPTKILN ini malah merusak imej NGO, karena biasanya aktivis NGO itu cerdas-cerdas.

"Pernyataan itu merusak citra aktivis NGO yang cerdas-cerdas", keluh Jumhur.

Yang lebih mengerikan lagi, menurut Jumhur, tidak sedikit juga NGO yang bayaran, sehingga kualitas bicaranya makin ngelantur yang penting bisa menyenangkan si pembayar.

Sedangkan terkait substansi kritik yang dilontarkan JARI-PPTKILN Jumhur enggan menanggapinya karena tidak mau mengomentari kritik murahan seperti itu.

"Jangankan kritik, hujatan pun kalau itu berkelas dan subtantif, saya mau menanggapi. Kalau perlu, saya mau berdebat terbuka dengan mereka semua tentang revisi UU TKI", demikian Jumhur.[ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya