Berita

ilustrasi

Pemerintah Harus Ikut Bermain Demi Pemerataan Ekonomi

MINGGU, 13 JANUARI 2013 | 13:27 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Jika melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan menggunakan indikator GDP, maka pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan 6,4 persen. Dan berdasarkan asumsi indikator ini, Indonesia diprediksi akan menjadi 16 besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2020.

Namun demikian, fakta di lapangan menunjukan bahwa pemerataan ekonomi di Indonesia masih tidak menyeluruh. Tidak hanya itu, fakta dilapangan menunjukkan sebagian besar konsumsi publik Indonesia berasal dari impor. Padahal dalam barang impor tersebut terdapat jutaan jam kerja buruh di negara lain, mulai dari riset pengembangan produk hingga distribusi produk.

Demikian disampaikan Heru Dewanto dalam acara diskusi panel bertajuk "Urgensi Nasionalisme Ekonomi Indonesia" yang diselenggarakan Yellow Forum for Young Leaders (YFYL.) di Lagoon Coffe, Hotel Sutan, Jakarta (Minggu, 13/1).


Lebih lanjut, Heru mengatakan fakta di lapangan ini telah menunjukkan bahwa ekonomi di Indonesia masih belum mengalami pemerataan dan belum memiliki kekuatan yang disebutnya sebagai nasionalisme ekonomi Indonesia.

Untuk itu, Heru menekankan agar bangsa ini mencermati tiga hal dalam melihat pertumbuhan ekonomi demi pemerataan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Pertama, penggunaan indikator GDP itu penting tapi yang lebih penting adalah pemerataan yang menyangkut kesejahteraan masyarakat luas," tukas Heru.

Kedua, masih lanjut Heru, bangsa ini harus bisa mencermati seberapa kuat bangsa ini dalam memproduksi barang dalam negeri.

Sementara point ketiga, Heru menekankan adanya keterlibatan atau keberpihakan pemerintah dalam mengawal produksi barang dalam negeri. Jangan sampai, masih lanjut Heru, keterlibatan pemerintah hanya berhenti pada pembuatan UU.

Pemerintah jangan membiarkan perusahaan swasta dalam negeri maupun BUMN bermain sendiri dan membiarkan mereka bersaing dengan swasta-swasta luar negeri yang ada tanpa didukung pemerintah.

"Pemerintah jangan hanya membuat peraturan, tapi juga harus ikut bermain dengan mendukung perusahaan swasta dalam negeri maupun BUMN," demikian heru.[ian]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya