Berita

ilustrasi

Politik

Citra Buruk Partai Lama Bukan Kompensasi Nasdem Dipilih Rakyat

RABU, 09 JANUARI 2013 | 15:10 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Partai Nasdem tetap harus berjuang keras agar dipilih rakyat pada pemilu mendatang. Citra buruk partai-partai lama belum cukup jadi pengundang atau kompensasi mengalirnya dukungan rakyat ke partai Nasdem, satu-satunya partai baru yang bertarung pada pemilu 2014.

"Karakteristik pemilih Indonesia punya kecenderungan memilih partai sebagai kebiasaan. Isu korupsi atau isu-isu buruk lainnya yang menempel di partai-partai lama tidak akan membuat pemilih beralih dan menjatuhkan pilihan ke Partai Nasdem," kata Direktur Citra Komunikasi Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Toto Izul Fatah kepada Rakyat Merdeka Online, Rabu (9/1).

Kecenderungan karakteristik pemilih seperti ini terlihat dari pemilu ke pemilu. Partai Golkar misalnya, tetap jadi pilihan di pemilu 1999 padahal saat itu Golkar dicap partai anti reformasi dan korup. Paska kejatuhan Soeharto sampai sekarang Golkar tetap eksis.

Setidaknya, kata Toto, ada empat hal yang harus dipenuhi partai bila ingin mendapat dukungan besar dari pemilih. Yakni, tokoh partai, finansial, SDM atau mesin politik, dan media. Partai Nasdem kuat di dua hal, financial dan media. Dengan finansial besar yang dimiliki, Nasdem bisa membuat jaringan sampai ke grass root. Media yang dimiliki para pentolan partai Nasdem lebih dari cukup dalam memasifkan iklan.

Tapi dari sisi figur, partai Nasdem tidak punya. Surya Paloh cukup dikenal tapi belum jadi figur yang punya magnet kuat menarik pemilih seperti figur SBY dengan partai Demokratnya. Paloh masih harus diuji lagi.

Selain Paloh ada Sultan Hamengkubuwono X. Tapi lagi-lagi kesannya di publik dia elitis. Agar publik tertarik Sultan mesti dikemas lagi misalnya dengan kerja blusukan seperti yang dilakukan Jokowi.

"Di survei-survei elektabilitas partai Nasdem sebagai partai baru memang lumayan, sebesar 5 persen. Tapi angka ini masih kalah jauh dari PDIP dan Golkar. Elektabilitas ini juga diperoleh karena masifnya iklan, sementara mesin partai belum teruji," kata Toto lagi.

Citra buruk partai-partai lama sebagai partai korup, jelas dia, bukan faktor menguntungkan bagi partai Nasdem sebagai partai baru yang belum kelihatan belangnya dalam mendulang suara. Wacana korupsi muncul di kelas menengah ke atas sementara di tingkat grass root wacana ini tidaklah terlalu besar.

"Tetap saja kalau mau menang Partai Nasdem harus mengoptimalkan empat hal tadi. PR besar Partai Nasdem, segera majukan figur yang bisa memenuhi harapan publik," tandas Toto.[dem]


Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya