Berita

presiden sby/rm

Politik

2,4 Juta Hektar Tanah Bermasalah Sepanjang SBY Berkuasa

JUMAT, 28 DESEMBER 2012 | 16:42 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Di tahun 2007, Presiden SBY berjanji melaksanakan reforma agraria melalui Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN). Tapi faktanya, sampai sekarang SBY belum memenuhi janji tersebut.

"Sepanjang kekuasaan SBY sejak tahun 2004 hingga sekarang, telah terjadi 618 konflik agraria di seluruh wilayah republik Indonesia," kata Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Idham Arsyad, menjelaskan catatan akhir tahun 2012 KPA tentang situasi agraria, Jumat (28/12).

Konflik dan sengketa agraria yang terjadi sejak SBY menjadi presiden itu terjadi dengan areal konflik seluas 2.399.314,49 hektar, dimana ada lebih dari 731.342 KK harus menghadapi ketidakadilan agraria dan konflik berkepanjangan.
 

 
Ketidakberpihakan pemerintah kepada masyarakat yang tengah berkonflik, tindakan intimidasi dan kriminalisasi, serta pemilihan cara-cara represif oleh aparat kepolisian dan militer dalam penanganan sengketa agraria telah mengakibatkan 941 orang ditahan, 396 mengalami luka-luka, 63 orang diantaranya mengalami luka serius akibat peluru aparat serta 44 orang meninggal selama periode 2004-2012. Bahkan, dalam tiga tahun terakhir inu menurut Idham, grafik kejadian konflik agraria di tanah air terus menunjukkan peningkatan.

Jika di tahun 2010 ada 106 konflik agraria yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, dan 163 kasus di tahun 2011, maka sepanjang tahun 2012 tercatat ada 198 kasus. Luasan areal konflik agraria sepanjang tahun 2012 mencapai lebih dari 963.411,2 hektar, serta melibatkan 141.915 kepala keluarga (KK).

Sementara catatan kriminalisasi dan kekerasan yang dialami petani dalam konflik sepanjang tahun 2012 itu adalah, 156 orang petani telah ditahan, 55 orang mengalami luka-luka dan penganiayaan, 25 petani tertembak, dan tercatat 3 orang tewas. Dari 198 kasus yang terjadi di tahun 2012 itu, 90 diantaranya terjadi di sektor perkebunan (45 %), 60 kasus di sektor pembangunan infrastruktur (30 %), 21 kasus di sektor pertambangan (11 %), 20 kasus di sektor kehutanan (4%), 5 kasus di sektor pertanian tambak/pesisir (3%), dan 2 kasus di sektor kelautan dan wilayah pesisir pantai (1 %). [dem]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya