RMOL/ Gempa yang terjadi pada hari Selasa, 11 Desember 2012 pukul 1:53 WIB memiliki magnitude sebesar 7.1 dan mekanisme sesar naik miring. Gempa ini berada pada kedalaman medium terjadi di sebelah timur laut banda dimana konvergensi dari lempeng Australia terdistribusi pada back arc dan Laut Banda.
Menurut pakar gempa, Dr. Irwan Meilano, secara morphologi karakteristik busur Banda memperlihatkan pertemuan konvergen pada batas lempeng. Sistem konvergensi tersebut bersambung mulai dari Java trench sampai ke Buru. Pemisahan sistem konvergensi, dari tunjuman ke tumbukan terjadi di sekitar Pulau Savu.
"Dimulai dari Pulau Timor ke arah timur merupakan bagian dari segmen tumbukan Banda dan semakin ke timur bergerak ke utara merupakan bagian dari segmen tumbukan Seram dimana pemisahan keduanya kemungkinan terkait dengan sambungan dari sistem sesar Tarera Aiduna," jelas Dr. Meilano dalam keterangan yang diterima redaksi..
Tetapi, sambung pakar dari Research Center for Disaster Mitigation (RCDM)Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, sebagian besar energi ditransformasikan menjadi konvergensi di back-arc dan sesar aktif di busur Banda dan Flores. Di sebelah timur dari Sumba konvergensi dari lempeng Australia terdistribusi pada back arc dan Laut banda, dan tidak ada konversi pada timur through. Hal ini mengindikasikan batas utara dari lempeng Australia berada pada bagian utara dari Banda arc pada Laut Banda.
Pada bagian utara kepala burung Papau sebagian deformasi yaitu sesar geser, tetapi pola regangan memperlihatkan adanya konvergensi yang tegak lurus terhadap trench yang mengakomodasi deformasi Lempeng Pacific relatif terhadap Australia.
Sejarah kegempaan di sekitar Laut Banda menunjukan wilayah ini sangat aktif. Beberapa gempa dengan magnitude di atas 8 yaitu, pada 1918, 1938, 1950 dan 1963. Beberapa tsunami besar juga sering terjadi di Banda diantaranya tahun 1899 yang mengakibatkan korban lebih dari 3.000 jiwa. [zul]