Berita

Pemerintah dan DPR Harus Percepat Revisi UU Migas!

SELASA, 27 NOVEMBER 2012 | 13:36 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Langkah pemerintah membuat Satuan Kerja Sementara Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKSP Migas) harus didukung untuk menjaga produksi minyak dan penerimaan negara. Mantan rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) Profesor DR Ing Tunggul K Sirait mengatakan, langkah tersebut sudah tepat dan sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi terkait dengan dibubarkannya BP Migas.

"Ini tidak perlu dipermasalahkan dan harus didukung agar tidak menimbulkan keraguan para investor migas di negeri ini," katanya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (27/11).

Lebih lanjut, dia mendukung target yang akan dilakukan oleh SKSP Migas untuk melakukan efisiensi dan mencermati recovery cost. Apalagi itu banyak disoroti.

"UU Migas sudah sangat perlu direvisi dan jika tidak dilakukan maka ini bisa menimbulkan masalah yang pada akhirnya merugikan bangsa ini," katanya.

Dia menambahkan, pihaknya sudah menyerahkan draft usulan revisi UU Migas ke Komisi VII DPR sejak hampir setahun yang lalu yang antara lain usulan menghapus keberadaan BP Migas dari UU Migas dan membentuk BUMN khusus Hulu.

Sebelumnya, mantan Deputi Operasi BP Migas Budi Indarto mengatakan, para investor Kontraktor Kontrak Kerja Sama Migas (KKKS) perlu adanya jaminan kepastian atas investasi mereka dan dengan dibentuknya SKSP Migas ini bisa membuat mereka tenang. Dia berharap, satuan kerja itu dapat mewujudkan kepedulian langsung terhadap kesejahteraan masyarakat misalnya dengan mewajibkan para KKKS mempekerjakan masyarakat dilingkungan pertambangan migas.

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengatakan, pemerintah dan DPR harus mempercepat revisi UU Migas. Namun, revisinya harusnya dilakukan dengan melibatkan masyarakat luas dan seluruh pakar yang terkait. Bahkan perlu pula dimintakan usulan dari Perguruan Tinggi yang ada.

"UU Migas hasil revisi jangan sampai disahkan secara tergopoh-gopoh hanya untuk kepentingan pihak tertentu," katanya.

Menurutnya, pemerintah dan DPR harus belajar dari UU Migas yang dibuat secepat kilat dan untuk banyak muatan kepentingan pihak tertentu. [dem]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Legislator Nasdem: Bukan Hal Sulit bagi Polri Kejar Spam Judol

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:57

Aksi Dramatis Anggota TNI Selamatkan Balita dari Cengkeraman Paman Sakau

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:45

Sempat Lolos OTT KPK, Bos PT MSA Fika Nur Alawi Resmi Pakai Rompi Oranye

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:35

Lagu ‘Mas Bahlil Ganteng’ Berdampak Positif terhadap Citra Golkar

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:10

Cak Imin Pastikan Sekolah Rakyat Sukoharjo Siap Sambut Tahun Ajaran Baru

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:07

Telkom Akses Perkuat Kompetensi SDM Digital di Daerah 3T

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:48

Aliansi Kontraktor Geruduk Sudin PRKP Jakut Gegara Dugaan Monopoli Proyek

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:41

Peresmian Kantor UN Tourism Kukuhkan Spanyol di Garda Terdepan Multilateralisme

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:30

Kejagung Endus Dugaan Keterlibatan Kolonel TNI Aktif dalam Korupsi MBG

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:25

Baru Tiga Bulan Menjabat, Dirut Pos Indonesia Mundur

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:21

Selengkapnya