ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Buntutnya, pembangunan ruÂÂmah murah itu sulit direalisaÂsiÂkan. Lambatnya PKO ini dikabarÂkan karena Djan Faridz lebih disibukkan untuk mengurusi proÂyek peruÂmahan dan aparteÂmen di bersama Gubernur DKI Jakarta Jokowi Widodo dan WaÂkilnya Basuki Tjahaja Purnama.
Ketua Umum Asosiasi PeÂngemÂbang Perumahan dan PerÂmuÂkiman Seluruh Indonesia (AperÂsi) Eddy Ganefo mengaÂtakan, putusÂan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memÂboÂlehkan rumah tipe 21 diÂbangun belum bisa direaliÂsasikan, lanÂtaran PKO belum juga diteken oleh Menpera.
“Pemerintah terkesan mengÂhamÂbat pembangunan rumah tipe 21 karena PKO FLPP dengan bank pelaksana belum juga diÂteken. Padahal, keberadaan ruÂmah tersebut akan mendorong paÂsar properti lebih baik, terÂmaÂsuk menekan angka backlog ruÂmah yang setiap tahun meÂrangÂkak naik,†ungkap Eddy kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Saat ini, kata Eddy, pihak bank pelaksana FLPP masih meÂnungÂgu tekenan PKO dari pemerintah untuk mengeluarkan penyediaan dana kredit untuk proyek rumah tipe 21. Jika tidak ada PKO, bank ogah mencairkan kredit tersebut.
“Kalau PKO tidak diteken juÂga, Menpera dianggap melangÂgar putusan MK. Pengembang dan masyarakat kecil berharap PKO ini bisa segera diteken seÂhingga rumah tipe 21 bisa seÂgera dibaÂngun,†harap Eddy
Menurutnya, Peraturan MenÂteri Perumahan Rakyat (PerÂmenÂpera) Nomor 27 tentang PeÂngaÂdaan Perumahan melalui kreÂdit/pembiayaan pemilikan rumah sejahtera dan Permenpera Nomor 28 tahun 2012 tentang Petunjuk pelaksanaan pengadaan peruÂmaÂhan melalui kredit/pembiÂayaan pemilikan rumah sejahtera deÂngan dukungan FLPP, belum biÂsa dijadikan legalitas oleh bank peÂlaksana untuk mencairkan kredit, sebelum PKO diteken.
“Penerbitan Permenpera mesÂtinya dibarengin PKO seÂhingga pihak bank bisa segera meÂnyaÂlurkan kreditnya dalam proyek rumah tipe 21 ini,†kata Eddy.
Deputi Bidang Pembiayaan KeÂmenpera Sri Hartoyo meÂngatakan, masalah PKO tidak perlu diangÂgap berlebihan. MeÂnurutnya, jika masÂyarakat ingin mengambil rumah dengan tipe di bawah 36, bisa langÂsung datang ke bank dan memeÂnuhi syarat adminisÂtrasi, sebagaiÂmana penyaluran KPR FLPP yang sudah ada.
“Ada atau tidaknya PKO nggak masalah. Yang penting bank peÂnyelenggara sudah ada fasilitas KPR FLPP. Tinggal daÂtang dan teken dengan membaÂwa perÂsyaÂratan, jadi nggak perlu repot-reÂpot,†jelas Sri.
Ia pun meminta Apersi untuk tidak mempermasalahkan soal PKO. Pihaknya tidak ada niat menghambat putusan MK terkait batasan rumah di bawah tipe 36.
â€Kami sangat menghormati putusan MK. Yang paling penting masyarakat mampu membeli rumah sesuai kemampuannya dan ketersediaan rumah bagi MBR tetap terpenuhi,†ujarnya.
Wakil Ketua Komisi V DPR bidang Perumahaan Mulyadi meÂnambahkan, pemerintah, bank dan pengembang harus bersatu untuk memenuhi kebutuÂhan ruÂmah bagi MBR yang layak, buÂkan hanya murah.
“Saya kira koordinasi harus diÂÂtingkatkan agar program peruÂmahan bisa berjalan dengan baik dan rakyat bisa mendapat hunian yang layak dengan harga muÂrah,†pinta Mulyadi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47