ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Pengamat perminyakan KurÂtubi mengatakan, penurunan proÂduksi minyak nasional meruÂpaÂkan bukti yang jelas bahwa tata kelola migas nasional dengan menggunakan Undang-Undang (UU) Migas Nomor 22 Tahun 2001 teÂlah merugikan negara.
Akibat UU Migas itu, kata KurÂtubi, proÂduksi miÂnyak terus anjlok karena tidak ada penemuÂan cadangan miÂnyak baru dalam 10 tahun terÂakhir ini. Produksi minyak hanya berÂsanÂdar pada suÂmur-sumur minyak tua.
“Sangat disayangan pemerinÂtah tidak mau mencabut Undang-Undang Migas yang sudah jelas-jelas merugikan negara. Terakhir tahun 1997-1998 ditemukan Blok Cepu, itu sebelum ada Undang-Undang Migas,†tegas Kurtubi keÂÂpada Rakyat Merdeka meÂnangÂgapi pernyataan BP Migas yang tidak sanggup mencapai target produksi satu juta barel per hari di Jakarta, kemarin.
Kurtubi menjelaskan, hadirnya BP Migas melalui UU Migas terÂsebut, telah memÂbuat proses inÂvestasi migas menÂjadi biroÂkratis dan berbelit-belit. Apalagi, di duÂnia hampir tidak ada yang mengÂgunakan model pengÂelolaan miÂgas seperti di Indonesia.
“Dulu BP migas tiÂdak ada. Negara seharusnya menyerahÂkan pengelolaan migasÂnya kepaÂda perusahaan migas nasionalÂnya. Di Indonesia ya Pertamina. Sejak dikelola BP Migas, tata kelola miÂgas nasional menjadi berbelit-belit,†kritiknya.
Selain itu, kata Kurtubi, UU MiÂgas pasal 31 juga menyebutÂkan investor migas diwajibkan memÂbayar pajak meskipun beÂlum meÂnemukan cadangan miÂnyak baru.
Sebelumnya, Deputi PerenÂcaÂnaan BP Migas Widyawan PraÂwiÂraatmadja pesimis produksi miÂÂnyak bisa digenjot hingga satu juÂta barel per hari. PengemÂbaÂngan sejumlah proyek baru, seÂperti South Mahakam, juga beÂlum mampu menambah proÂduksi dengan signifikan.
“Untuk 2013 misalnya, target peningkatan produksi yang diÂpatok 900 ribu barel per hari saja maÂsih cukup sulit. Supaya 900 ribu barel tercapai, Desember itu harus 880 ribu barel per hari. Tapi sekarang maÂsih 850 ribu barel per hari,†katanya.
Karena itu, Widyawan menaÂwarÂkan penggunaan teknik EnÂhance Oil ReÂcovery (EOR) di seÂjumlah lokasi pengeboran miÂnyak. Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita H Legowo mengaÂtakan, EOR cara yang paling straÂtegis untuk mengÂgenÂjot proÂduksi minyak. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47