ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Sekalipun belum diatur daÂlam Undang-Undang Sistem PenÂdidikan Nasional (Sisdiknas) soal program ini, Kementerian PendiÂdikan dan Kebudayaan (KeÂmenÂdikbud) tetap ngotot mau mengÂgulirkannya pada tahun depan.
Inspektur Jenderal (Irjen) KeÂmendikbud Haryono Umar meÂngatakan, pagu anggarannya mencapai Rp 1 juta per siswa setiap tahun yang mencakup biaya inÂvestasi dan operasional.
“BOS untuk SMA/SMK ini nanÂtinya masuk program PenÂdiÂdiÂkan Menengah Universal (PMU). SPP-nya tidak lagi dibeÂbankan kepada siswa dari tingÂkatan dasar hingga SMA/SMK,†kata HarÂyono di Jakarta.
Meskipun belum dibahas seÂcara rinci dalam aturan SisÂdikÂnas, kata Haryono, bukan berÂarti progÂram 12 tahun tidak meÂmiliki paÂyung hukum. Kini dana angÂgarÂannya menÂcapai Rp 9 triliun buat 9.900.115 siswa SMA/SMK di seluruh Indonesia.
“Tidak ada lagi alasan siswa miskin tidak bisa melanjutkan seÂkolah. Sekolahnya nanti suÂdah gratis. Ini juga efektif meÂnekan angka putus sekolah di jenjang SMP,†kata Haryono.
Mekanismenya nanti akan dibeÂrikan dari tingkat provinsi keÂmuÂdian disalurkan ke sekolah-seÂkoÂlah. Berbeda dengan pola sebeÂlumnya, dana tersebut ditransÂfer ke pemerintah Kabupaten/Kota.
“Lewat mekanisme penyaÂlurÂan peÂmerintah provinsi, peÂnyeÂlewÂeÂngan dapat diminiÂmaÂlisir,†tutur Haryono yakin.
Terkait rawannya penyeÂleÂweÂngan dana BOS yang kerap terjaÂdi, Haryono mengatakan, pihakÂnya bersama Komisi PemberanÂtasan Korupsi (KPK) KemenÂdikbud akan membuat sistem pengawasan. “Saat ini masih diÂbahas pola pengawasannya akan seperti apa,†jawabnya.
Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rahmatullah menilai, program wajib belajar 12 tahun yang akan diterapkan tahun depan meruÂpakan sebuah kesaÂlahan pemeÂrintah, karena tidak segera mereÂvisi Undang-Undang (UU) SisÂdiknas untuk menetapkannya.
“Jika diterapkan nanti, progÂram wajib belajar 12 tahun sehaÂrusnya bukan lagi menjadi rintisÂan. Tetapi harus segera dilaksaÂnakan. “Pemerintah harus cepat merevisi Undang-Undang SisÂdikÂÂnas,†desak Rahmatullah.
Selama ini, kata Rahmatullah, PemeÂrinÂtah Daerah (Pemda) terÂkesan memperlambat aliran dana ke seÂkolah dengan alasan sekolah beÂlum membuat laporÂan pengÂguÂnaan dana pada triÂwulan seÂbeÂlumnya.
Padahal, kata Rahmat, meÂnguÂtip pernyataan Menteri PendiÂdikÂan dan Kebudayaan (MendikÂbud) Muhammad Nuh, laporan terÂsebut bisa ditunda atau digaÂbung dengan dana berikutÂnya.
Anggota Komisi X DPR biÂdang Pendidikan RaiÂhan IskanÂdar menambahkan, rencana reÂvisi UU Siskdiknas seÂcepatnya akan segera dilakukan untuk memuat program belajar 12 taÂhun, yang saat ini masih menÂjadi rintisan 12 tahun.
“Sebagaimana wajib belajar 9 tahun dalam Undang-Undang SiskÂdikÂnas, program belajar 12 tahun mesti dioptimalkan karena wajib belajar 9 tahun belum makÂsimal,†ucapnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47