Sofjan WaÂÂnandi
Sofjan WaÂÂnandi
Harga gas domestik saat ini sangat mahal karena pasokan gas yang tidak sesuai kontrak, memÂbuat industri dalam negeri sulit berkembang. Hal itu dikatakan KeÂtua Umum Apindo Sofjan WaÂÂnandi di Jakarta, Jumat (3/11).
“Sudah saatnya produksi gas 100 persen digunakan di dalam negeri. Karena itu, kontrak lama harus direnegoisasikan kembaÂli,†tegas Sofjan.
Menurut Sofjan, renegosiasi konÂtrak harga gas bisa dilakuÂkan peÂmerintah selama ada keÂbeÂraÂnian. DeÂngan adanya reneÂgoisasi tersebut, dia optimis proÂdusen gas tetap bisa berjualÂan di dalam negeri.
“Kalau tidak ada renegosiasi, industri kita tidak akan pernah maju. Karena itu, kebutuhan gas dalam negeri tetap harus nomor satu,†katanya.
Sofjan mengatakan, kalaÂngan industri lebih memilih mengÂguÂnakan bahan bakar gas karena harganya lebih murah dibanding listrik. Selain itu, lebih efisien dan ramah lingkungan.
Wakil Ketua Komite Tetap InÂdusÂtri Kamar Dagang Dan InÂdusÂÂtri (Kadin) AchÂmad Widjaya berÂharap, industri pengguna gas biÂsa memanfaatkan stok gas yang tak dimanfaatkan secara optimal. Misalnya, PT PerusaÂhaÂan Listrik Negara (PLN) meÂmiliki stok gas yang hanya diÂgunakan saat beban puncak (peak time).
Menurut hitungan Achmad, jumlah gas milik PLN yang hanya digunakan saat peak time sangat beÂsar, mencapai 200 mmscfd. Stok ini antara lain unÂtuk cadaÂngan Pembangkit LisÂtrik Muara Tawar dan dari Batam.
Achmad menyarankan, gas milik PLN dapat dialihkan ke industri yang membutuhkan. “Mereka hanya menyandera gas dan hanya memakainya saat-saat tertentu,†ujarnya.
Pemerintah menetapkan mulai April 2013 harga jual gas dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ke industri akan naik menÂÂjadi 10,2 dolar AS per million british thermal units (mmbtu). Saat ini, harga gas industri sekitar 8 dolar AS per mmbtu (1 mmscfd setara dengan 1.165 mmbtu).
“Tanpa terobosan berarti diÂkhaÂwatirkan harga gas industri akan melambung di atas 10,2 doÂlar AS per mmbtu,†ungÂkapnya.
Anggota Komisi VII DPR biÂdang Energi dan Gas Bobby RiÂzaldi meminta pemerinÂtah mengÂÂÂhentikan proses negoÂsiasi kontrak ekspor gas Tangguh yang sebeÂlumÂnya untuk Sempra Energy ke Jepang.
“Pemerintah jangan hanya reÂtorika saja akan memprioritasÂkan ke dalam negeri. Segera aloÂkasiÂkan seluruh gas Sempra untuk domestik,†tegasnya.
Apalagi, menurut Bobby, proÂyek Tangguh train 1 dan 2 belum ada yang dialokasikan untuk memasok gas ke dalam negeri (DMO). Pengalokasian gas ke dalam negeri akan memberikan dampak berantai yang lebih beÂsar ketimbang ekspor.
Bobby berpendapat, pemeÂrinÂtah bisa mengalokasikan seluÂruh gas Sempra ke dalam negeri kaÂrena proyek Tangguh sudah balik modal.
“Gas Sempra dijual dengan harga 3 dolar AS per MMBTU saÂja, produsen sudah untung. KaÂlau pemerintah pintar, maka haÂrusÂnya tidak tergoda lagi untuk diÂjual ke luar negeri,†ceÂtus Bobby. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47