ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Keraguan itu disampaikan DiÂrektur Institute for DevelopÂment of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati di JakarÂta, kemarin.
“Situasi krisis global masih mempengaruhi target partumbuÂhan ekonomi nasional. Ditambah lambatnya pembangunan infraÂstruktur serta terjadinya krisis paÂsoÂkan gas yang mengganggu inÂdustri,†ujar Enny.
Selain itu, adanya high cost economy dalam birokrasi juga menjadi pemicu penghambat perÂtumbuhan ekonomi Indonesia.
“High cost economy bisa berÂasal dari biaya-biaya siluman, tiÂdak adanya penyederhanaan biÂrokrasi dan perizinan, termasuk model perpajakan,†ungkapnya.
Indef mengharapkan, pemerinÂtah bisa lebih serius membenahi birokrasi tersebut serta memÂperÂcepat program infrastruktur deÂngan memberikan pasokan gas kepada kalangan industri.
“Jika itu dibenahi, maka target ekoÂnomi di atas enam persen bisa diÂtembus,†ujar Enny.
Menteri Perencanaan PemÂbaÂnguÂnan Nasional (PPN)/KeÂpala Bappenas Armida AlisjahÂbana menyatakan optimis pertumbuhÂan ekonomi nasional pada kuarÂtal III-2012 masih tetap tinggi dan bisa mencapai angka di atas 6 persen.
“Kalau dilihat, trend inflasi year to date menunjukkan penurunan dari yang kemarin 3,79 persen (Januari-September 2012) menÂjadi 3,66 persen (Januari-OktoÂber 2012),†kata Armida.
Menurut Armida, pertumbuhÂan kreÂdit masih kuat, investasi juga baÂgus. Ini akan mendukung penÂcapaian pertumbuhan ekoÂnomi nasional yang tinggi dan bisa di atas 6 persen.
Die menyatakan, angka-angka inflasi yang diumumkan oleh BaÂdan Pusat Statistik (BPS) cukup bagus dan masih dalam kisaran angka yang cukup terkendali unÂtuk mengantarkan pertumbuÂhan ekonomi di atas 6 persen.
“Grafik atas angka-angka inÂflasi di daerah juga trendnya meÂnurun dan baik. Jadi saya optiÂmis pertumbuhan kuartal III-2012 bisa di atas enam persen,†katanya.
BPS mencatat bahwa pada Oktober 2012 terjadi inflasi seÂbesar 0,16 persen dengan Indeks Harga KonÂsumen (IHK) sebesar 134,67. Dari 66 kota IHK, pada bulan ini 37 kota di antaranya mengalami inÂflasi dan 29 kota mengalami deÂflasi. Inflasi terÂtinggi terjadi di Manokwari 0,97 persen dengan IHK 148,74 dan terendah terjadi di Kediri 0,01 persen dengan IHK 134,05.
Sedangkan deflasi tertinggi terÂjadi di Ambon 2,44 persen deÂngan indeks 138,56 dan terendah terjadi di Madiun 0,01 persen dengan IHK 137,48. Inflasi terÂjadi karena adanya kenaikan harÂga yang ditunjukkan oleh keÂnaikÂan indeks beberapa kelomÂpok pengeluaran, yakni kelomÂpok maÂkanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,38 persen.
Selanjutnya kelompok peruÂmaÂhan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,42 persen, kelompok sanÂdang 0,94 persen, kelompok keÂsehatan 0,25 persen, dan keÂlomÂpok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,21 persen.
Sedangkan kelompok pengeÂluaÂran yang mengalami deflasi atau penurunan indeks, yakni keÂlompok bahan makanan 0,43 perÂsen dan kelompok transpor, koÂmuÂnikasi, dan jasa keuangan 0,02 persen. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47