ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Pengamat perminyakan KurÂtubi menegaskan, sejak peÂngeÂloÂlaan bisnis Migas diserahkan ke Badan Pelaksana Kegiatan Hulu MiÂnyak dan Gas (BP Migas), proÂduksi minyak terus menurun. Hal ini menandai kegagalan lembaga yang dibentuk lewat Undang UnÂdang (UU) Migas Nomor 21 taÂhun 2001 ini.
“Ini jelas cara keÂlola yang saÂlah. Jadi, BP Migas haÂrus segera dibubarkan. ProÂdukÂsi kita renÂdah ini karena tidak ada peneÂmuan sumur baru dalam 10 taÂhun ini,†tegasnya kepada RakÂyat MerdeÂka, kemarin.
Terus turunnya produksi miÂgas, lanjut Kurtubi, menyeÂbabÂkan penerimaan negara dari sektor migas menurun. Di sisi lain, cost reÂcovery (dana talangan yang diÂberikan pemerintah akibat eksÂplorasi migas) meningkat. MeÂnurutÂnya, kondisi itu terjadi berÂkaitan dengan UU Migas.
Kurtubi mengungkapkan, UU MiÂgas yang menciptakan BP MiÂgas sehingga sistem prosedur inÂvestasi migas jadi berbelit-belit. Salah satunya, investor disuruh baÂyar royalti lebih dulu sebelum eksÂplorasi. “Yang tanda tangan konÂtrak ini BP Migas. Tapi, kalau peruÂsahaan kontraktor mendaÂpatÂÂkan hambatan di daerah, BP MiÂgas nggak bisa mencari solusi dan melindungi investor. Jadi, proÂyeknya terganggu,†kritiknya.
Ketua Komisi VII DPR Sutan BaÂtoeghana mengatakan, Komisi VII DPR mengapresiasi kinerja BP Migas dan mendorongnya meÂningÂkatkan kinerjanya. “DeÂngÂan mengupayakan penÂcaÂÂpaian tarÂget lifting yang telah ditetapÂkan dalam APBN tahun 2012,†kata Sutan.
Menurutnya, KoÂmisi VII DPR meminta BP MiÂgas agar meningÂkatkan pengaÂwasan penerimaan negara dari kegiatan usaha hulu minyak bumi dan atau gas bumi.
“Penerimaan ini berasal dari hasil Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS),†katanya.
Seperti diketahui, lifting miÂnyak Indonesia hingga akhir taÂhun 2012 diprediksi hanya akan menÂcapai 870 ribu barel per hari (bph). Jumlah itu merupakan proÂduksi minyak terendah sejak 1970. Saat itu, produksi miÂÂnyak Indonesia hanya 853 ribu bph.
BP Migas meÂngaku ada 15 peÂnyebab semakin meÂlorotnya proÂduksi minyak. Tahun ini, potensi kehilangan menÂcapai 52.000 barel per hari (bph).
Kepala BP Migas Raden PriÂyono menuturkan, penyebab utaÂma berasal dari gangguan proÂdukÂsi di semua KKKS yang menÂÂcapai 10.100 bph. “Lalu, pecahÂnya pipa TGI di Chevron Pacific Indonesia (CPI) dan terbakarnya kapal penampung minyak lenÂtera bangsa milik CNOOC yang meÂnyebabkan kehilangan sebaÂnyak 9.000 bph,†ujarnya saat rapat deÂngar pendapat dengan Komisi VII DPR.
Alasan lain, lanjut Priyono, gangÂguan yang berasal dari status perÂpanjangan kontrak yang berÂdampak pada shifting skenario pemboran milik PHE WMO yang meÂnyebabkan kehilangan seÂbaÂnyak 5.500 bph.
“Dan penurunan poÂtensi subÂsurÂface di lapangan Tunu milik Total E&P Indonesie dan bebeÂrapa KKKS yang meÂnyeÂbabkan keÂhiÂÂÂlaÂngan 8.500 bph,†tegasnya.
Tertundanya pengadaan anÂjuÂngÂan atau rig di beberapa KKKS seperti Chevron, Vico, Santos dan PerÂtamina, telah menghiÂlangÂkan poÂtensi minyak sebaÂnyak 5.300 bph. “Sementara itu, keterÂlamÂbaÂtan proyek juga menÂjadi peÂnyeÂbab kehilangan miÂnyak sebanyak 2.500 bph,†jelasnya.
Tak hanya itu, persoalan pemÂbebasan lahan juga dituding seÂbagai salah satu penyebab berÂkurangnya produksi yang dialami Pertamina, Medco dan Seleraya seÂbanyak 2.200 bph. “Perubahan prioÂritas pekerjaan yang mengÂhiÂlangkan 2.100 bph. Lalu, peruÂbaÂhan subsurface menghilangkan miÂnyak sebanyak 2.100 bph,†paparnya.
Dia menjelaskan, masalah periÂzinan juga menjadi penyebab keÂhilangan potensi minyak seÂbaÂnyak 1.600 bph. Kendala opeÂrasi menghilangkan minyak sebanyak 1.600 bph. “Lalu, realisasi proÂduksi sumur pengembangan tidak sesuai target yang berpotensi mengÂhilangkan 1.500 bph,†kaÂta Priyono. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47