ilustrasi, Daging
ilustrasi, Daging
Menurut anggota Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi, berÂdasarkan hasil sensus sapi yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian PerÂtaniÂan (Kementan) pada 2011, diÂketahui jumlah sapi potong menÂcapai 14,8 juta ekor.
Sementara, kata Yoga, kebuÂtuhan sapi potong dalam negeri haÂnya 11,5 juta ekor. Dengan angÂka ini memperlihatkan IndoÂnesia sebenarnya sudah bisa meÂmenuhi kebutuhan daging sendiri.
“Tapi kenyataannya hingga kini Indonesia masih saja impor daging beku dan sapi bakalan untuk digemukan,†katanya keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Yoga berpendapat, kondisi ini memperlihatkan manajemen pengelolaan sapi potong dalam negeri masih buruk. Jika konÂdiÂsinya terus begini, target 2014 unÂtuk melakukan swasembada daÂging susah terealisasi.
“Seharusnya pemerintah tegas mengÂhentikan impor daging sapi beku dan sapi bakalan, kecuali sapi bangkalan betina untuk meÂnambah populasi daging yang suÂdah ada karena kebutuhan daging daÂlam negeri sudah bisa tercuÂkupi. Impor daging ini akan sulit dihaÂpus karena ada indikasi perÂmainan mafia daging,†ungkap anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.
Karena itu, dia tidak heran jika setiap tahun terjadi kisruh maÂsalah kuota impor daging. MeÂnurutnya, pengusaha daging haÂnya mau mengambil enaknya saja dengan impor karena biaya lebih murah dibanding membeli sapi lokal karena mahalnya biaya logistik.
“Impor sah-sah saja unÂtuk daÂging yang memang tak ada di sini atau untuk memenuhi keÂbuÂtuhan hotel dan restoran,†jelasnya.
Terkait impor daging ilegal, Yoga menyarankan agar barang buktinya dibakar saja. MeÂnurutÂnya, kalau dilakukan reekspor akan terjadi permainan lagi.
Ketua Komisi IV DPR RomaÂhurÂmuziy mengungkapkan, adaÂnya mafia impor daging adalah akiÂbat dominasi importir tertentu yang memiliki kuota impor dan hanya digunakan sejumlah peÂnguÂsaha impor yang terbatas.
“Aroma kartel sangat kuat daÂlam impor daging dikarenakan importir daging yang terbatas,†kata politisi PPP itu.
Dirjen Peternakan dan KeseÂhatan Hewan Kementan Syukur Iwantoro memprediksi, imÂporÂtasi daging sapi tahun depan akan mencapai 75 ribu ton atau 14 perÂsen dari total kebutuhan pada tahun depan 535 ribu ton.
Dia mengatakan, berdasarkan hasil kajian supplay and demand daÂging sapi, volume impor tahun depan sekitar 82.000 ton. NaÂmun, berdasarkan hasil data supÂlai daging sapi lokal, kekurangan pasokan hanya 14 persen atau 74.000-75.000 ton yang akan diÂimpor tahun depan.
Dia menuturkan, alokasi imÂpor daging sapi tahun depan diÂbagi dalam bentuk sapi bakalan (sapi potong) 60 persen dan daÂging sapi beku 40 persen.
Sebelumnya, Menteri PerdaÂgaÂngan Gita Wirjawan meÂngatakan, pemerintah belum bisa menyetop impor daging sapi. SeÂbab, proÂdukÂsi di dalam negeri beÂlum menÂcukupi. Alasannya, saat ini IndoÂnesia hanya memiliki 15 juta ekor sapi dengan jumlah konÂsumsi 500 ribu ton per tahun. JumÂlah tersebut harus memenuhi keÂbuÂtuhan 220 juta rakyat Indonesia.
Untuk mempersulit para mafia daging jual beli kuota, Mendag mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (PermenÂdag) No. 24/M-DAG/PER/9/2011 tentang ketentuan impor dan ekspor produk hewan telah terbit 7 September 2011. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47