ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Saat sosialisai pengawasan BBM bersubsidi, Ketua Tim PeÂngawasan BBM Bersubsidi KarÂÂseno mengatakan, lemahnya peÂngawas di daerah itu karena adaÂnya pembiaran terhadap prakÂÂtik-praktik penyelundupan BBM bersubsidi.
“Mungkin saja ada tekanan dari aparat atau penguasa di daeÂrah sehingga pengawas BBM berÂsubsidi tak berdaya atau taÂkut,†kata Karseno.
Menurut dia, untuk memperÂtajam kinerja pengawas di daeÂrah, terpaksa tim dari pusat tuÂrun ke kabupaten atau kota yang terÂdapat indikasi penyalahgunaan BBM bersubsidi. Tim dari pusat itu berupaya melakukan operasi tangkap tangan para pelaku peÂnyelundupan BBM bersubsidi.
“Setelah ditangkap kita serahÂkan kepada penyidik yang ada di daerah agar diproses lebih lanÂjut,†ucap Karseno.
Karseno mengatakan, untuk meÂlakukan pengawasan dan peÂngendalian BBM bersubsidi, piÂhaknya tidak bisa mengguÂnakan kekerasan atau tindakan represif. “Kita hanya terus mengÂimbau dan mengimbau,†jelasnya.
Dia menyebutkan, tim pengaÂwaÂsan BBM bersubsidi selama 2012 telah menggagalkan sejumÂlah usaha penyelundupan BBM bersubsidi di tanah air. Karena itu, dia mengimbau masyarakat unÂtuk melaporkan kepada tim peÂngawas BBM bersubsidi jika meÂnemukan adanya indikasi penyeÂlundupan. “Jangan sampai ada aparat keamanan justru melinÂdungi penyelundupan BBM berÂsubsidi,†katanya.
Saat ini anggota tim pengaÂwaÂsan BBM bersubsidi berjumÂlah sekitar 10 ribu orang yang terÂsebar di seluruh Indonesia. AngÂgota tim berasal dari berbagai inÂstansi seperti TNI, Polri, KejakÂsaan, Bea dan Cukai, BPH MiÂgas dan pemerintah setempat.
Produksi Minyak Seret
Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto menilai, produksi miÂnyak bumi memang sulit diÂnaikÂkan dalam beberapa tahun terÂakhir dan juga masa mendatang.
Menurut anggota Fraksi GolÂkar itu, penurunan tingkat proÂduksi minyak dari seharusnya secara alamiah mencapai 10-12 persen hingga hanya menjadi 3,6 persen pada 2012 sudah meruÂpakan upaya optimal.
Badan Pelaksana Hulu MiÂnyak dan Gas Bumi (BP Migas) dalam laporannya kepada KoÂmisi VII DPR memaparkan, produksi minyak tahun ini diÂperkirakan mencapai 870.000 barel per hari atau turun 3,6 perÂsen dibanding realisasi 2011 yang 902.000 barel per hari.
Dito mengatakan, produksi minyak baru akan meningkat lagi setelah mulai berproduksinya Lapangan Banyu Urip, Cepu sebesar 165.000 barel per hari mulai 2014. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah segera merubah ketergantungan minyak bumi dan menggantinya dengan gas, batubara dan energi baru dan terbarukan (EBT).
Ia juga meminta pemerintah segera merealisasikan janji perubahan paradigma pemanÂfaatan gas dari sebelumnya hanya sebagai penerimaan devisa neÂgara menjadi pendorong pertumÂbuhan ekonomi.
Menurut Dito, gas mesti sebeÂsar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan energi primer pemÂbangkit, industri, dan kendaraan sehingga memberikan nilai tambah.
“Kalau gas untuk doÂmestik, yakni sebagai energi primer pembangkit listrik, inÂdustri, petÂrokimia, pupuk dan kendaÂraan, akan memberikan multiplier effect yang jauh lebih besar diÂbanding hanya sebagai peneÂrimaan devisa negara,†jelasnya.
Pengamat energi dari ReforÂMiner Institute Komaidi NotoÂnegoro mengatakan, menjaga agar produksi minyak tidak turun terlalu jauh memang penting. Namun, akan lebih baik tidak sekadar mencegah penurunan, tapi menambah produksi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47