ilustrasi, PLTU Cirebon Electric Power (CEP) Cirebon
ilustrasi, PLTU Cirebon Electric Power (CEP) Cirebon
Menurut dia, kebutuhan energi yang selalu bertambah setiap tahun, harus dibarengi dengan penambahan infrastruktur.
“Kita pantau semua. Kita haÂrapÂkan juga energi baru terÂbaÂrukan semakin berkembang. JaÂngan cuma tender dan tender. Setiap bulan pokoknya harus ada peletakan batu pertama atau peÂresmian infrastruktur energi,†ujar Wacik di Cirebon, pekan lalu.
Menurut menteri asal Partai Demokrat itu, pemerintah juga berÂusaha meningkatkan infraÂstrukÂtur dan kerja sama dengan swasÂta guna memenuhi kebuÂtuÂhan energi. Apalagi ekonomi maÂsÂyaÂrakat yang makin meÂningÂkat, maka kebutuhan energi juga akan semakin meningkat pula.
Karena itu, Wacik mengÂinsÂtruksikan kepada jajarannya unÂtuk selalu memantau perkemÂbangan infrastruktur energi.
Presiden Direktur Cirebon ElecÂtric Power (CEP) Takeo Nakata mengatakan, PLTU dengan 660 MW ini dibangun dengan skema Independet Power Producer (IPP) oleh konsorsium Indika Energi Tbk, Marubeni CorpoÂration, Korea Midland Power Company dan Samtana Co. Ltd dengan investasi 850 juta dolar AS atau sekitar Rp 7,6 triliun.
“PLTU ini terbesar di Jawa BaÂÂrat. Berdasarkan perjanjian jual beli dengan PLN, setelah berÂopeÂrasi, maka PLTU Cirebon ini akan memasok listrik ke jaringan Jawa dan Bali selama 30 tahun,†kata Nakata.
Namun, pemerintah dinilai beÂlum tepat dan berani meÂlaksaÂnaÂkan roadmap dan meÂngamÂbil keÂbijakÂan energi. Karena itu, peÂmeÂrintah diminta merombak suÂsuÂnan kebiÂjakan energi agar leÂbih berorintasi pada kedaulatan dan ketahanan energi nasional.
“Selama ini pemerintah tidak mempunyai political will dalam melaksanakan roadmap kebijaÂkan energi yang mereka buat. KeÂÂbijakan yang ada saat ini masih lebih mementingkan kepentingÂan asing,†kata Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa.
Oleh sebab itu, beberapa aturÂan yang tecantum dalam kebiÂjakan energi di sektor hulu dan hilir perlu dirombak agar lebih mengÂutaÂmakan kepentingan doÂmestik. Seperti, merevisi UnÂdang-Undang (UU) No. 22/2001 tentang Migas dan UU No. 4/2009 tentang MiÂneral dan BatuÂbara (Minerba).
Selanjutnya, memberikan prioÂritas kepada BUMN untuk meÂngelola dan menyeÂlenggaÂrakan industri pertambangan naÂsional. Kemudian memprioÂriÂtaskan pengÂgunaan sumber-sumber energi primer seperti miÂnyak, gas dan batubara untuk kepentingan domestik.
“Itu yang harus dilakukan peÂmerintah jika ingin ada peÂningÂkatan produksi yang baÂkal diikuti peningkatan peneÂrimaan negara,†ujar Ali. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47