ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Menurut Wacik, dengan pertumÂbuhan ekonomi 6,5 persen per tahun, Indonesia sudah kekuÂrangan pasokan listrik. “Saya beÂserta jajaran, terutama PLN jangan terlalu lama mengambil keputusan pembangkitan listrik,†ujar politisi Demokrat ini.
Karena itu, Wacik mengatakan, jika ada orang yang meminta izin untuk membangun pembangkit lisÂtrik agar segera diberikan. “JaÂngan terlalu lama berpikir, asal coÂcok semuanya dan mau menÂdukung empat pilar pemÂbaÂngunan nasional, cepat-cepatlah tanda tangani,†tegasnya.
Jika tidak, pertumbuhan ekoÂnomi akan selalu terhambat akibat kekurangan listrik.
Selain itu, Wacik mengaku akan mulai mengurangi pemÂbangÂÂkit listrik yang mengÂguÂnakan bahan bakar minyak bumi karena selain paÂsokannya makin sedikit, hargaÂnya juga mahal.
Dia menargetkan, peningkatan penggunaan bahan bakar gas, batubara, panas bumi akan naik. Tahun depan, target penggunaan BBM dalam energy mix sebesar 9,7 persen dan angka tersebut turun dari 2012 yang mencapai 13,83 persen.
Di temoat yang sama, Dirjen Ketenagalistrikan KeÂmenterian ESDM Jarman meÂngatakan, setiap tahunnya dibuÂtuhkan investasi 9,6 miliar dolar AS atau Rp 90 triliun agar ada tambahan listrik 5.000 Mega Watt (MW) per tahun. “Itu untuk membangun pembangkit listrik dan transÂmisi,†katanya.
Dia mengakui, untuk memÂbangun 5.000 MW dengan dana 9,6 miliar dolar AS tidak bisa dilaÂkukan oleh PLN dan pemeÂrintah. Perlu dukungan investasi dari swasta.
Apalagi pemerintah tiap tahunÂÂnya hanya memberi PLN Rp 10 triliun untuk membangun pemÂbangkit dan transmisi, artinya hanya 1 miliar dolar AS. SeÂdangkan untuk menutupi keÂkurangannya 8,6 miliar dolar AS butuh dukungan swasta.
Untuk tahun ini, kata Jarman, ditargetkan ada tambahan kapaÂsitas listrik sebesar 5.500 MW. Untuk tahap I, PLN membangun 2.000 MW sementara IndeÂpendent Power Plant (IPP/proyek pembangkit listrik swasta) sebesar 2.500 MW.
“Dari 5.500 MW tersebut Pembangkit yang di Cirebon sudah masuk, Tanjung Jati masuk, Paiton juga sudah masuk. SemenÂtara yang dibangun IPP sebesar 2.500 MW sudah ter-cover semua, di mana dari 5.500 MW yang dibangun 80 persen merupakan PLTU (batubara),†tandasnya
Direktur Utama PLN Nur PaÂmudji mengatakan, pihaknya menganggarkan investasi Rp 60 triliun pada 2013. Dana tersebut bakal dialokasikan ke beberapa proyek pembangkit listrik, transmisi dan jaringan distribusi.
Rencananya, anggaran itu diperuntukkan bagi beberapa pengembangan dan pembaÂnguÂnan proyek-proyek PLN, seperti pembangkit listrik, transmisi dan jaringan distribusi.
Wakil Direktur ReforMiner Komaidi Natanegoro mengaÂtakan, jumlah pembangkit yang ada di Indonesia masih belum bisa memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri.
“Itu (pembangkit) masih saÂngat kurang. Itu bisa dilihat rasio elektrifikasi nasional (jumlah penduduk yang terjangkau aliran listrik) pada 2011 sebesar 74,49 persen dari total jumlah penduÂduk di Indonesia,†katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Dia juga mengatakan, proyek 10 ribu MW tahap I dan II belum bisa menyelesaikan masalah listrik nasional. Apalagi, proyek tersebut juga terlambat penyeleÂsaiannya. “Kendala pembanguÂnan pemÂbangkit sendiri sangat beraÂgam, mulai dari investasi, periÂziÂnan hingga masalah bisnis,†jelasnya.
Komaidi juga mengingatkan PLN untuk meningkatkan pembangunan pembangkit listrik dengan adanya kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 15 persen pada 2013. Sebab, selama ini kenaikan tarif tidak pernah sebanding dengan peningkatan infrastruktur listrik.
Untuk diketahui, pada 2011 realisasi rasio elektrifikasi di Jawa dan Bali 76,9 persen, di Indonesia bagian barat 76,7 persen dan di Indonesia bagian timur hanya mencapai 62,4 persen. Untuk itu, pada tahun 2012 PLN menargetkan rasio elektrifikasi nasional sebesar 74,03 persen.
Pada 2014, PLN menargetkan rasio elektrifikasi bisa mencapai 80,01 persen. Dengan rincian, rasio elektrifikasi di Jawa dan Bali 82,2 persen, di Indonesia bagian barat 84,7 persen, di Indonesia bagian timur 65,7 persen. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47