Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Kosmetik Ilegal Kuasai Pasar Masuk Lewat Pelabuhan Tikus

RABU, 17 OKTOBER 2012 | 08:00 WIB

.Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Komestika (PPA Komestika) mengeluhkan ser­buan produk komestik ilegal yang menguasai pasar dalam negeri.

Ketua Umum PPA Kosmetika Putri Kuswisnuwardani mengata­kan, saat ini impor ilegal produk komestika sudah mencapai Rp 20 triliun. “Angka itu sepertiganya dari market dalam negeri yang mencapai Rp 60 triliun,” ujarnya di acara pameran produk industri dan obat tradisional di Kemen­terian Perindustrian (Kemen­perin), kemarin.

Menurut Putri, dengan era globalisasi sekarang produk impor yang masuk mengalami kenaikan empat kali lipat. Yang lebih bahayanya lagi adalah kenaikan impor ilegal yang jumlahnya lebih besar dibanding impor resmi.

Dia mengaku heran dengan tingginya serbuan produk impor tersebut, apalagi pemerintah su­dah mengatur pintu masuk im­portasi komestik melalui empat pelabuhan saja. “Produk-produk impor ini banyak masuk melalui pelabuhan tikus,” katanya.

Ditanya dari mana asal produk komestika ilegal tersebut, Putri hanya menjawab dari negara tetangga, tanpa merinci lebih lanjut. Menurutnya, saat ini im­por produk komestik yang resmi banyak masuk dari Malaysia, Thailand dan China.

Putri mengatakan, penyebaran produk-produk impor banyak dite­mukan di daerah luar Jakarta. Karena itu, dia meminta Kemen­terian Perdagangan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) bekerja sama dengan Bea Cukai menekan impor ilegal tersebut.

Selain itu, dia mengeluhkan soal bahan baku karena banyak diekspor dalam bentuk mentah. Alhasil, industri komestik dalam negeri kekurangan dan harus im­por. Ditambah industri pengo­la­han bahan mentah menjadi bahan setengah jadi juga masih minim. “Saat ini hanya industri pengo­lahan baru bisa memenuhi 30 per­sen kebutuhan lokal,” tandasnya.

Menteri Perindustrian (Menpe­rin) MS Hidayat mengatakan, tantangan industri komestika dalam negeri adalah membanjir­nya produk komestik impor di pasar domestik. Menurutnya, tahun ini penjualan komestik impor akan tembus Rp 2,44 triliun, meningkat 30 persen di­banding penjualan 2011 yang mencapai Rp 1,8 triliun.

“Kenaikan ini memang di­pengaruhi oleh perminataan pasar akan produk premium dan bermerek,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Telkom Cegah Kerusakan Terumbu Karang Lewat Program ‘Bisa Biru’

Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05

Cak Imin dan Parpol Sahabat Ikut Merumput di Turnamen Minisoccer Harlah PKB

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38

Kebutuhan Dana B50 Capai Rp32,3 Triliun, BPDP Pastikan Kas Aman

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36

Baliho Ulang Tahun Jokowi Disoal, Pengamat Minta PPID Buka Dokumen Perizinan

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23

Kejagung Teken Tiga Sprindik Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16

Zulhas Ungkap Dua Fungsi Utama Kopdes Merah Putih, Tegaskan Bukan Supermarket

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08

IHSG Sore Ini Menguat ke 6.041, Rupiah Ditutup Rp18.068 per Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00

Menpar Jamin Setiap Rupiah Anggaran Negara Dikelola Akuntabel

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51

Sentuhan Teknologi Digital Mudahkan Masyarakat Ikuti Gerakan Sedekah Subuh

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48

Curiga Ada Intervensi Jelang Musda Demokrat Aceh, Kader Kirim Surat Terbuka ke AHY

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47

Selengkapnya