ilustrasi, Pertamina
ilustrasi, Pertamina
Sekjen FSPBB Novi Andri mengatakan, jika tender tetap dilaksanakan BPH Migas, seÂbaikÂÂnya Pertamina mundur dari peÂnyaÂluran BBM subsidi. ApaÂlagi selaÂma ini BUMN migas itu terus meÂnanggung kerugian dari peÂnyaÂlurannya.
“Pertamina mengundurkan diri dari penyaluran BBM subÂsidi, biarÂkan asing yang meÂnangÂgungÂnya. Kalau ada apa-apa PerÂtaÂmiÂna jangan disuruh menangÂgung bebannya,†kata Novi keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Novi mengakui, perusahaan asing ikut menyalurkan BBM subÂsidi bukan kali ini saja, tapi tahun lalu juga sudah berkiprah. Namun yang terjadi, saat asing tidak bisa memenuhi keÂbutuÂhan yang ditetapkan, PerÂtamina juga yang dipaksa untuk meÂmeÂnuhinya oleh peÂmerintah.
Dia curiga, ada permainan daÂlam tender ini. “Mana mau asing masuk ke situ (penyaluran BBM subsidi) jika tidak ada untungÂnya,†katanya.
Dia juga mempertanyakan keÂnapa tender penyaluran BBM subsidi dibuka untuk wilayah JaÂwa Bali yang selama ini tidak ada maÂsalah dalam penyaluran. KeÂnapa tidak ditugaskan untuk wiÂlayah atau daerah terpencil yang masih sulit terjamah.
Pengamat kebijakan energi Sofyano Zakaria mengatakan, peluang asing ikut mendisÂtribusikan BBM bersubsidi di Indonesia bisa terjadi karena hal tersebut dimungkinkan dalam Undang-Undang Nomor 22 taÂhun 2001 tentang Migas.
Menurutnya, untuk menghaÂpus peluang itu, dengan melaÂkukan revisi undang-undang (UU) terÂsebut dan menyusun atuÂran baru yang lebih berpihak kepada keÂpentingan dan keÂdaulatan energi nasional dan terlepas dari kenÂdali asing.
“Bangsa ini tidak perlu alergi dengan sikap anak bangsa yang mendukung kedaulatan energi di berada penuh ditangan bangsa ini,†jelasnya.
Sofyano menyatakan, sektor hilir migas di negeri ini tidak boÂleh dipercayakan kepada pihak asing. Mempercayakan dan memberi kesempatan sekecil apapun kepada asing untuk menÂdistribusikan BBM subsidi sama dengan mematikan peruÂsahaan nasional. Apalagi selaÂma ini inÂdustri hulu migas 75 perÂsennya dikuasai asing.
Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri PurnoÂmoÂhadi tetap menolak rencana liÂbeÂralisasi distribusi BBM subsidi oleh pom bensing asing. “Apa benefit (keuntungan) yang didaÂpat Indonesia,†tegas Eri.
Menurut Eri, perusahaan asing itu hanya jualan saja tanpa baÂngun kilang dan depo. Apalagi, meÂreka mengincarnya wilayah JaÂwa Bali yang merupakan pangÂsa pasar tertinggi BBM subsidi.
“Kenapa mereka tidak mau buka di Papua, Maluku atau di pelosok Kalimantan sana,†papar Eri. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47