Bank Mandiri
Bank Mandiri
Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengakui adanya peÂnurunan, terutama untuk inÂdustri manufaktur. Menurutnya, bank juga akan melihat faktor kerenÂtanan industri tersebut deÂngan krisis yang terjadi saat ini.
“Bank akan menjadi lebih wasÂpada pada industri yang sangat dipengaruhi faktor eksÂternal, seperti usahanya lebih berorienÂtasi ekspor ke negara-neÂgara kriÂsis atau banyak mengÂimÂpor baÂhan baku,†kata Destry.
Destry menambahkan, ada beberapa klasifikasi yang harus dipenuhi pengusaha sebelum mendapat kredit. Bank akan meÂlihat berdasarkan empat asÂpek. Yaitu, sisi permintaan, apakah maÂsih cukup tinggi, sisi pasokan dan persaingan dengan para komÂpetitor, margin biaya dan keÂunÂtungan, serta sejarah perusahaan.
Pengamat perbankan Paul SuÂtaryono menilai, pertumbuhan kredit pada Agustus turun lanÂtaran masa Lebaran yang jatuh pada Agustus disertai libur panÂjang di banyak perusahaan. Inilah yang mempengaruhi penÂcairan kredit. Namun, Paul teÂlah memÂpreÂdiksi pada seÂmesÂter II kredit akan sedikit menipis.
“Ini menjadi sebab mengapa kredit modal kerja menipis. Jadi bukan karena bank-bank besar menahan kredit tersebut. SebalikÂnya, kemungkinan besar justru kredit konsumsi lebih menebal karena konsumsi masyarakat naik tinggi,†ujarnya singkat.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution meÂngaÂtakan, pelambatan perÂtumÂbuhan kredit terutama terjadi paÂda kredit modal kerja. PerÂtumÂbuÂhan kredit modal kerja sebesar 23,2 persen, turun dari Juli 2012 sebesar 27,3 persen.
“Kredit konsumsi tumbuh reÂlaÂtif stabil sebesar 19,9 persen, seÂmentara kredit investasi tumÂbuh cukup tinggi sebesar 29,8 perÂsen,†ujar Darmin di Jakarta, Kamis (11/10).
Deputi Gubernur BI Halim AlamÂsyah menyatakan, pelamÂbatan kredit modal kerja diseÂbabkan karena kecenderungan korporasi lebih berhati-hati daÂlam mengambil kredit.
“Itu dari pengamatan yang terÂjadi di bank-bank besar, terÂutaÂma di 14 bank besar,†ujarnya.
Menurut Halim, korporasi meÂnahan mengambil kredit, terÂutama yang bergerak di bidang ekspor-impor. Meski demikian, kredit investasi tetap tumbuh pesat. BI memÂperÂkirakan, hingga akhir 2012 kredit akan tumbuh di kisaran 23-25 persen.
Sedangkan untuk pertumbuhan kredit valuta asing (valas), pada Agutus 2012 lebih lambat dari kredit rupiah. Namun, angka perÂtumbuhannya hanya berbeda tipis, yakni 23,8 persen untuk kredit rupiah dan 22,6 persen untuk kredit valas. Dari nilainya, kredit valas hanya mencapai 16 persen dari total kredit perbankan atau senilai Rp 400,6 triliun. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48
Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47