Berita

teguh santosa/rmol

Dunia

Proposal Otonomi Khusus Sahara Barat Buah dari Demokrasi di Maroko

KAMIS, 11 OKTOBER 2012 | 21:42 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Perdebatan mengenai Sahara Barat diwarnai klaim sejarah dan budaya, juga diskursus negara-bangsa pasca kolonial dan sindrom Perang Dingin. Persoalan Sahara Barat adalah buah dari kolonialisasi Barat terhadap, dalam hal ini, kawasan Afrika yang dimulai pada paruh kedua abad ke-19 silam.

Hal itu disampaikan Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko atau Sahabat Maroko, Teguh Santosa, saat berbicara di pertemuan Komisi Politik Khusus dan Dekolonisasi atau Komite Empat Majelis Umum PBB, di New York, hari Rabu (10/10).

"Kita sering menggunakan pengalaman Indonesia sebagai perbandingan dalam menemukan model penyelesaian konflik Sahara Barat. Saya perlu menggarisbawahi bahwa hanya dalam iklim demokrasi Indonesia dapat menyelesaikan persoalan itu dengan damai. Saya juga percaya, bahwa hanya dengan pendekatasan demokrasi kita dapat menyelesaikan persoalan ini (Sahara Barat)," kata jurnalis yang juga dosen di FISIP Univeristas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.

Menurut hemat Teguh, proposal otonomi khusus yang ditawarkan Maroko adalah buah dari proses demokrasi di kerajaan yang dipimpin yang Muhammad VI itu.

Dia juga mengingatkan bahwa dalam pertemuan strategis Amerika Serikat dan Maroko bulan September lalu, Menlu AS Hillary Clinton menyatakan Maroko adalah contoh yang baik bagi kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Dari lima negara Afrika Utara, misalnya, hanya Maroko yang "selamat" dari badai revolusi yang menghumbalang kawasan itu sejak akhir 2010 hingga tahun lalu. Teguh percaya bahwa pernyataan Menlu Clinton itu pun didasarkan pada komitmen kuat Maroko dalam membangun demokrasi.

Demokrasi seperti yang dipahami banyak pihak, sambungnya lagi, tidak sekadar mengenai berapa jumlah partai politik dan apakah pemilihan umum diselenggarakan dengan teratur, dan seterusnya. Substansi demokrasi melebihi hal-hal yang sifatnya prosedural seperti itu.

"Demokrasi (substansial) tentang apakah anggota masyarakat mendapatkan peluang yang sama untuk mempraktikkan hak dan tanggung jawab mereka. Demokrasi juga selalu mengenai kesejahteraan dan kemakmuran bersama," masih katanya.

Menyaksikan pembangunan yang sedang terjadi di Sahara Barat, Teguh merasa yakin bahwa pada dasarnya demokrasi ada dan berfungsi dengan cukup baik di Sahara Barat.

Sahara Barat merupakan satu dari belasan wilayah yang masuk dalam daftar non self governing territories. Sejarah memperlihatkan bahwa Sahara Barat yang secara de facto dikuasai Maroko adalah bagian dari kerajaan itu sejak jauh sebelum gelombang kolonialisasi Eropa di Afrika dimulai pada paruh kedua abad ke-19 menyusul Perjanjian Berlin 1884-1885.

Dalam perjanjian yang ditandatangani di Fez tahun 1912, Prancis dan Spanyol sepakat membagi dua Maroko. Wilayah utara berada di bawah perlindungan Prancis dan wilayah selatan berada di bawah kolonialisasi Spanyol.

Prancis meninggalkan wilayah utara Maroko pada 1956, setahun setelah Konferensi Asia Afrika di Bandung. Sementara Spanyol baru meninggalkan Sahara pada 1976 menyusul krisis ekonomi dan politik di Eropa kala itu.

Perang Dingin turut memperumit persoalan. Aljazair yang memiliki hubungan erat dengan Uni Soviet berusaha merebut pengaruh di Sahara Barat yang ditinggalkan Spanyol. Aljazair pun menampung kelompok Polisario di kamp Tindouf di baratdaya negeri itu. [zul]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya