Berita

presiden sby

Dari Kasus KPK-Polri, SBY Harus Benahi Berbagai Kisruh Antarlembaga

SELASA, 09 OKTOBER 2012 | 09:58 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kasus sengketa dan meliputi kisruh antarlembaga resmi dalam kehidupan bernegara, sejauh ini memang banyak mewarnai era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, baik di antara lembaga yang mengatur aspek kebijakan layanan publik, di lingkungan penegakan hukum, maupun pada hubungan kelembagaan lain yang berada di bawah kendali presiden.

Hal itu perlu menjadi renungan sekaligus perbaikan mendasar secepatnya agar Presiden SBY tidak semakin terperangkap dalam ketidakpastian yang berujung meningkatnya keraguan masyarakat terhadap kepemimpinannya.

"Jadi, saatnya Presiden SBY menguras waktu, pikiran, dan tenaganya untuk membenahi berbagai kisruh antarlembaga di sekitarnya, dengan momentum penyelesaian kasus pertikaian KPK-Polri yang telah melibatkan langsung komitmen presiden itu," ujar Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan di Jakarta, Selasa (9/10).

Menurutnya, selain kasus perselisihan KPK-Polri yang kini terbuka luas, di kementerian dengan lembaga nonkementerian lain acap terjadi kekisruhan seperti dalam penanganan ketenagakerjaan (TKI) di luar negeri. Sementara itu, katanya, adakalanya pula terungkap disharmoni antara TNI dengan Polri secara langsung ataupun tidak.

"Itu belum lagi menyangkut pola hubungan antarkementerian ekonomi, yang satu sama lain cenderung menciptakan ketidakselarasan prioritas agenda bagi keperluan memajukan perekonomian nasional, khususnya ke arah aspek pemberdayaan ekonomi rakyat dan untuk melahirkan kesejahteraan seluruh masyarakat," jelasnya.

Ia mengungkapkan, berbagai kasus tumpang tindih, kisruh, dan bahkan sengketa kewenangan yang melingkari pemerintahan SBY, bila ditelusuri cermat menyentuh elemen-elemen penting kelembagaan dalam negara atau pemerintahan, yang sebenarnya membawa amanat pemartabatan kehidupan bangsa. Di luar itu, sisi ketidakharmonisan terkait pengaturan wewenang pusat dan pemerintah daerah juga terus menyimpan pontensi konflik hingga kini.

"Dengan gambaran itu, mau tak mau bangsa telah menjadi pihak yang dirugikan kepercayaannya. Apalagi, pada kasus tertentu, kenyataan itu diperparah oleh campur tangan kalangan dalam presiden yang tidak begitu relevan untuk turut menangani,"  tambah Syahganda.

Ia juga mengatakan, pembentukan sejumlah Satuan Tugas (Satgas) oleh lembaga kepresidenan di masa lalu, pun tak urung membuat manajemen pemerintahan SBY dikesankan tidak efisien, karena faktanya berbagai Satgas yang pernah gencar di permukaan itu tak membuahkan hasil strategis, di samping lemah memberi pertanggungjawaban kepada publik.

Syahganda menjelaskan, akibat fenomena yang mengungkungi pemerintahan Presiden SBY itu, tentu saja membuat sinergi dan prestasi kelembagaan pemerintah merosot dari harapan rakyat, termasuk munculnya sorotan publik yang meletakkan hubungan antarpemerintah menjadi tidak produktif, untuk kemudian bahkan dikembangkan melalui sinisme di kalangan luas.

Karena itu, ia mengharapkan Presiden SBY mengutamakan sikap tegas dan keberanian melakukan efektivitas penyelengaraan negara, tanpa perlu menimbang hal-hal yang dapat mengancam kerjasama politiknya dengan pihak partai koalisi.

"Justru, kalau Presiden SBY tegas maka partai politik pasti akan mendukung, sebab jika keberatan, parpol akan menghadapi perlawanan dari rakyat," cetusnya.

Untuk mengambil sikap tegas dan berani itu, lanjut Syahganda, Presiden SBY juga tidak perlu menimbang-nimbang dampak popularitas publik, kecuali menunjukkan keseriusan menata perubahan di dalam pemerintahannya, yang otomatis dapat memberi manfaat besar bagi bangsa dan negara di kemudian hari.  [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya