Berita

andi arief/ist

Andi Arief: Reformis Gadungan Ingin Bajak Keberhasilan Pemberantasan Korupsi

SENIN, 08 OKTOBER 2012 | 03:29 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kalangan istana menyesalkan manuver kelompok yang disebut sebagai reformis gadungan yang memanipulasi persoalan sehingga kini hubungan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia terlihat bagaikan hubungan Tom and Jerry.

Staf Khusus Presiden, Andi Arief, mencium gelagat yang sama seperti yang terjadi pada episode "cicak lawan buaya" beberapa waktu lalu. Dia juga menyesalkan upaya kelompok itu menciptakan kesimpangsiuran pemberitaan di media massa. Kelompok ini, katanya dalam pesan yang diterima redaksi Minggu malam (7/10), terbiasa memanpulasi fakta dengan opini sampah.

"Maka disarankan tidak ada yang terpancing dengan provokasi terutama melalui social media," ujar Andi Arief.

Dia mengajak semua pihak mengembalikan persoalan pada rel yang sudah semestinya, yakni komitmen pemberantasan korupsi sebagai buah dari proses reformasi. Komitmen ini adalah kelanjutan dari komitmen yang sudah dimulai pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Soekarnoputri. Adapun pemerintahan SBY, sebutnya lagi, dalam delapan tahun terakhir berusaha keras mempertahankan dan mempercepat pelaksanaan komitmen itu.

Tetapi, masih menurut Andi Arief, ada upaya yang dilakukan sementara kalangan untuk menghilangkan peran SBY yang selama ini memperkuat KPK dan di saat bersamaan secar agradual berusaha mengembalikan kepercayaan publik pada lembaga penegak hukum.

"Ada yang ingin membajak keberhasilan pemberantasan korupsi ini," katanya lagi sambil menambahkan bahwa kelompok reformis gadungan yang menumpang momentum ini adalah perusak pemberantasan korupsi sesungguhnya.

Andi Arief juga mengajak semua kalangan untuk membantu Kepolisian RI, Kejaksaan dan KPK meningkatkan kemampuan mereka dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi masing-masing sebagai lembaga penegak hukum.

"Kita tak perlu takut pada para pembonceng situasi. Mereka selalu gagal karena memasukkan politik yang berada di luar koteksnya," demikian Andi Arief. [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya