Berita

endriartono

Endriartono dan Pramono Edhie Kuda Hitam Capres 2014

KAMIS, 04 OKTOBER 2012 | 09:14 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Meski telah beredar sejumlah nama dari kalangan sipil dan purnawirawan TNI untuk meramaikan bursa calon presiden pada Pilres 2014, namun munculnya dua nama terakhir yang mulai disebut-sebut yaitu mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto serta Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, jelas tak bisa diabaikan karena berpotensi menjadi kuda hitam baik menjelang atau pada saat Pilpres tersebut.

Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan di Jakarta, Kamis (4/10).

Menurutnya, kedua nama itu merupakan figur terpercaya di lingkungan TNI mengingat jejak rekamnya yang bersih, selain memiliki integritas tinggi terhadap nasionalisme keindonesiaan sehingga mampu berpihak pada persoalan kebangsaan dan nasib rakyat.

Dengan demikian, lanjut Syahganda, model kepemimpinan keduanya juga diyakini dapat menjamin kenyamanan nasional, demi menciptakan kemajuan bangsa secara bermartabat ke depan khususnya di bidang kesejahteraan ekonomi, utamanya yang tidak tunduk pada pengaruh asing ataupun kapitalisme global.

"Karenanya, dua figur itu pantas dipersiapkan sebagai calon presiden yang akan datang," tegasnya.

Terkait komitmen pada pengembangan demokrasi di tanah air, Syahganda menilai kelembagaan ataupun figur-figur utama TNI, sejauh ini cukup terlatih untuk tidak mengganggu jalannya demokrasi. Hal itu jelas akan membuat Endriartono dan Pramono Edhie dapat memelihara bangunan demokrasi yang kini tumbuh subur di tanah air.

Ia tidak menampik, dalam ukuran popularitas di tengah masyarakat hingga saat ini, nama Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto memang terbilang tinggi sebagai capres yang difavoritkan banyak kalangan untuk menghadapi Pilpres 2014.

Namun demikian, adanya faktor 'kelam' tertentu di masa lalu yang kerap dituduhkan kepada Prabowo, dirasakan menjadi ganjalan guna memuluskan langkah pencapresan Prabowo.

"Sisi inilah yang akan mempersulit Partai Gerindra sebagai pengusung utamanya ke arah koalisi politik dengan melibatkan partai-partai lain, agar syarat ambang batas pengajuan capres (presidential threshold) tercukupi," ujar Syahganda.

Dikatakan, upaya pencapresan Prabowo yang boleh jadi cukup dilematis itu, setidaknya telah menjadi fokus sejumlah pihak untuk bekerja memangkas peluang Prabowo menuju Pilres, dengan mencari unsur TNI tergolong andal.

Ia mencontohkan, tidak diundangnya Prabowo pada pertemuan purnawirawan TNI angkatan 1970 serta sejumlah angkatan lainnya di Jakarta, Selasa (2/10) lalu, memberi gambaran adanya pengucilan politik untuk Prabowo dalam mendapatkan dukungan dari TNI.

"Padahal, acara itu dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sekaligus memberi wejangan politik bagi para purnawirawan TNI dalam konteks kekuasaan," katanya.

Sementara itu, Endriartono maupun Pramono Edhie, tampaknya lebih mudah diterima oleh semua lapisan purnawirawan dan internal TNI.

Syahganda juga menjelaskan, Endriartono dan Pramono Edhie dimungkinkan sebagai sosok ideal pelanjut kepemimpinan SBY yang sebelumnya berasal dari kepercayaan tentara.

"Dengan begitu, momentum keduanya dipastikan akan dimuluskan dalam mengupayakan dukungan penuh dari kekuatan parpol, melalui lobi-lobi yang intens untuk pencapresan di 2014," tambahnya. [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya