Berita

ilustrasi/rmol

Kemiskinan Kini Lebih Berbahaya dari G30S dan PKI

MINGGU, 30 SEPTEMBER 2012 | 18:09 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Sudah semestinya masyarakat dan bangsa Indonesia mengubah pendekatan dalam memperingati peristiwa berdarah dinihari 1 Oktober 1965 yang lebih sering disebut G30S. Peristiwa itu, bersama gelombang pembantaian massal yang mengikutinya, sudah terlalu lama menghantui dan memecah belah bangsa Indonesia.

Kini, masyarakat dan bangsa Indonesia, menurut Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan, harus mengetengahkan semangat rekonsiliasi nasional setiap kali membicarakan peristiwa tersebut. Dengan demikian, sudah tidak perlu lagi dipersoalkan latar belakang seseorang, apakah dari lingkungan yang dianggap memiliki kaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan peristiwa berdarah itu atau tidak.

Syahganda yang berbicara di Jakarta, hari Minggu (30/9) mengatakan, peringatan peristiwa berdarah 1965 itu perlu ditarik dan dimaknai dari sudut pandang kekinian berkaitan dengan hubungan antarkelompok bangsa, dengan mengedepankan rasa persatuan nasional demi membangun Indonesia yang lebih baik untuk kesejahteraan rakyat.

"Kenangan terhadap peristiwa G30S tidak relevan lagi, (terlebih bila) untuk melanjutkan luka sejarah maupun bentuk permusuhan lainnya," ujar Syahganda.

Masih menurut Syahganda, kini yang seharusnya dijadikan musuh besar bersama dalam konteks kekinian adalah fenomena kemiskinan dan keterbelakangan. Kedua hal ini layak diperangi bersama-sama.

"Bahkan, kemiskinan di tengah rakyat saat ini lebih berbahaya (dari peistiwa G30 S dan PKI) baik masalah maupun penyebabnya, utamanya berkaidan dengan upaya menghadapi cengkeramanan kaum kapitalis yang merupakan perpanjangan tangan kapitalisme asing," demikian Syahganda. [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya