Berita

PKS: Pelaku Tawuran Sama Dengan Teroris

SELASA, 25 SEPTEMBER 2012 | 16:28 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Tawuran pelajar antara SMA Negeri 6 dan SMA Negeri 70 yang berakhir dengan tewasnya seorang siswa mengindikasikan pendidikan karakter masih jauh panggang dari api. Apalagi, yang lebih mengkhawatirkan, tawuran sudah menjurus kepada rutinitas yang membahayakan dan menjadi trend dalam pergaulan pelajar.

"Kalau sudah begini pelaku tawuran sama dengan teroris, karena sudah menciptakan suasana teror dimana-mana, menanamkan bibit-bibit dendam dan kebencian," tutur Anggota Komisi X DPR, Raihan Iskandar dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Selasa (25/9).

Tawuran antar pelajar SMU Negeri 6 dan SMU Negeri 70 sudah terjadi di tiap angkatan secara turun temurun, sampai hari ini belum terselesaikan secara.


"Ini ibarat bom waktu, setiap saat bisa saja meletus," kata politisi PKS ini.

Dinas Pendidikan DKI Jakarta sebagai pihak yang membuat kebijakan katanya, harus bertindak untuk mengumpulkan pihak-pihak yang bertanggungjawab seperti kepala sekolah, wali murid, kepolisian, termasuk juga peserta didik.

"Selama ini setiap ada tawuran selalu penyelesaiannya di tingkat elit, tanpa melibatkan peserta didik sebagai pelaku tawuran," keluhnya.

Hal ini bertolak belakang dengan kelompok peserta didik yang tergabung dalam Rohis yang malah dianggap teroris. Padahal, katanya, rohis merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang turut menanamkan nilai-nilai moral dan karakter bagi siswa.

"Sementara aksi tawuran antar sekolah terus meningkat, upaya pengikisan moral setiap hari terjadi sehingga yang berkembang malah budaya premanisme," jelas Raihan

Lebih lanjut Raihan meminta pihak sekolah untuk tidak bosan-bosannya menanamkan nilai-nilai moral dan memprioritaskan pembangunan karakter peserta didik, anak jangan hanya dinilai dari prestasi akademik saja, tapi perhatikan juga moralnya, dan bagi pelaku tawuran segera berikan sanksi yang tegas, jadikan peristiwa ini untuk yang terakhir kalinya.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya