Berita

ham/ist

Mengapa Begitu Banyak Pelanggaran HAM Terjadi di Bulan September

MINGGU, 23 SEPTEMBER 2012 | 21:35 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) bekerjasama dengan Komunitas Serum menggelar pameran bertajuk "September Hitam". Pameran ini digelar selama bulan September di Kantor Kontras, Menteng, Jakarta Pusat.

Pameran tersebut digelar untuk untuk memperingati dan mengingatkan kembali kasus kekerasan HAM masa lalu yang banyak terjadi pada bulan September dan hingga kini belum terselesaikan. Karya yang dipamerkan berupa lukisan fotografi, video, dan audio. Semua karya berisi pengingat bahwa sejarah hitam Indonesia di bulan September belum selesai.

Sejarah mencatat, begitu banyak peristiwa memilukan dalam konteks pelanggaran HAM di Indonesia yang terjadi di bulan September.

Aktivis pembela HAM, Munir, pada 7 September 2004 meninggal akibat diracun dalam perjalanan menuju Belanda. Setelah delapan tahun berlalu, kasus Munir masih digantung di Kejaksaan Agung. Dalang pembunuhan diduga masih melenggang bebas.


Tragedi Semanggi II terjadi pada 24 September 1999 dengan aktor utama pihak keamanan dan militer. Ketika itu polisi dan anggota TNI menyerang mahasiswa yang sedang berunjuk rasa menolak UU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB). Dalam peristiwa itu mahasiswa Universitas Indonesia, Yun Hap, tewas dengan luka tembak. Aksi serupa di Lampung 28 September dan Palembang 5 Oktober menewaskan tiga demonstran.

Pelanggaran HAM di Tanjung Priok pun terjadi di bulan September, tepatnya 12 September 1984. Menurut laporan Komnas HAM pada 11 Oktober 2000, korban tewas dalam tragedi Tanjung Priok mencapai 24 orang. Jumlah itu didapat melalui penggalian makam dan penelusuran dokumen RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Demikian juga dengan kejahatan kemanusiaan yang tejadi sepanjang 1965 hingga 1966 yang diawali dari peristiwa 30 September 1965.

Kalangan pembela HAM menilai Kejaksaan Agung mandek dalam menuntaskan kasus-kasus kekerasan ini. Indonesia merintih, luka-luka masa lalu dibiarkan menganga dan tidak diobati. Seruan para pejuang kemanusiaan tidak didengar. Munir dan ratusan korban lainnya tewas dalam ketidakadilan dan ketidakpastian hukum. [arp]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya